Share

KH Ali Mas’ud

Beliau lahir pada 1908 di Sidoarjo, putra dari  KH. Said dan Nyai Mas Fatmah. Adapun silsilah lengkapnya, K.H. Ali Mas’ud bin K.H. Said bin K.H. Zarkasih (pendiri Pondok Sono, yang dikenal sebagai ulama ahli dalam ilmu sorofnya se-jawa pada zamannya) bin Mbah Muhyi bin Mbah Mursidi (makamnya berada di desa Tambak Sumur Waru) bin Abdurrahman Baqo’; Abdurrahman Baqo’ merupakan saudara kandung Mbah Syamsuddin, yang makamnya berada di Desa Daleman. Seperti diceritakan dalam al ikhtibar edisi XXII tahun III Februari 2008 : Rubrik Sejarah Sidoarjo.

Beliau dikenal sebagai seorang kekasih Allah Swt, atau sering disebut dengan istilah Waliyuallh, semenjak beliau masih usia anak-anak, bahkan beliau dapat memahami dan menjelaskan kitab-kitab kuning pada usia 5 tahun, itu merupakan salah satu tanda kewaliyan beliau (karomah).

Sehingga dengan posisinya sebagai kekasih disisi-Nya, maka cara atau metode dakwah yang digunakan pun berbeda dengan Kiai-kiai pada umunya, beiau tidak pernah berdakwah secara langsung (berceramah atau mengajar para santri), tetapi beliau selalu memberi nasehat atau wejangan kepada siapa pun yang bertamu kepadanya.

Sehingga tidaklah mengherankan kalau beliau menjadi rujukan masyarakat umum, santri, ustadz, kiai, serta para pejabat untuk meminta nasehat kepadanya. Dan termasuk diantaranya adalah K.H. Ahmad Shidiq (rais Aam PBNU periode 1984-1991) dan Kiai Hamim Djazuli (Gus Miek).

Atas kiprahnya dalam berdakwah dan memberikan nasehat kepada semua orang tanpa terkecuali yang datang ke rumanya,  maka beliau diakui sebagai kiai oleh berbagai lapisan masyarakat yang tersebar hampir di seluruh kawasan kepulauan Nusantara, walaupun beliau tidak membangun dan memiliki Pondok Pesantren sebagaimana layaknya seorang yang disebut atau dipanggil Kiai.

Selain dikenal sebagai ahli dalam memberikan isyarat petunjuk untuk umatnya, beliau juga dikenal sebagai pribadi yang murah tangan atau suka memberi shodaqah dan hadiah kepada sesamanya yang membutuhkan dan pantas untuk diberi hadiah.

Dan diantara kisah-kisah yang berkembang di tengah-tengah Masyarakt tentang  kekramatan beliau dalam bertindak, sebagai berikut:

Di saat pesawat yang dinaiki beliau mau leading, beliau dengan asyik membaca dibaiyah (narasi sejarah Biografi Nabi Muhammad Saw) dengan diiringi musik yang keluar dari anggota tubuh yang beliau pukul-pukul dengan kedua telapak tangannya, kejadian tersebut membuat salah satu awak pesawat tersebut memberikan teguran kepada beliau agar mengakhiri apa yang dilakukannya karena pesawat yang akan membawanya ke tanah Suci (mekkah) akan terbang.

Dengan terpaksa beliau mengakhiri apa yang dilakukannya, dan secara kebetulan mesin pesawat yang akan membawanya itu tidak dapat dihidupkan, setelah menjalani proses pengecekan tidak ditemukan permasalahan yang memnyebabkan pesawat tersebut enggan untuk terbang, akhirnya ada salah satu orang yang mengenal baik siapa itu Gus Ud, maka dengan inisiatifnya, ia menyampaikan kepada salah satu awak pesawat untuk meminta maaf atas apa yang lakukannya kepada Gus Ud, hingga membuatnya tersinggung.

Dan akhirnya awak pesawat tersebut meminta maaf kepada Gus Ud, :

“maaf yo, mbah… silahkan kalau mau dilanjutkan shalawatannya…”,

Dijawab oleh Gus Ud;

“yo,yo…. “ .

Dan beliau melanjutkan bacaan dibaiyyah yang terputus tadi dengan semangatnya. Akhirnya dengan ridlo allah Swt, pesawat tersebut dapat trebang hingga selamat sampai tujuan.

Dan kisah-kisah kekeramatan beliau yang lainnya masih banyak lagi, hingga akhir hayatnya beliau selalu dikelilingi oleh berbagai masyarakat yang ingin mendapatkan do’a dan limpahan berkahnya. Beliau wafat pada tahun 1979 M, atau diusianya yang ke 72 tahun. Dan makam beliau yang terletak di samping makam ibunya (Nyai Mas fatma) di daerah pagerwojo, Buduran, Sidoarjo,  hingga saat ini masih menjadi tujuan para pejiarah yang datang dari berbagai daerah, terutama pada malam jum’at legi. Serta tanggal kewafatannya selalu diperingati dalam acara khaul kewafatan beliau yang diadakan setiap tanggal 27 rajab di tiap tahunnya.

Leave a Comment