Share
KH. Baidlowi Bin KH. Abdul Azis

KH. Baidlowi Bin KH. Abdul Azis

K.H. Baidhowi putra K. H. Abul Azis, adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Wahdah, Sumbergirang, Lasem-Rembang, Jawa Tengah. Beliau dikenal dikalangan ulama pesantren jawa sebagai kiai yang arif dan bijaksana dalam memberikan solusi terkait dengan permasalahan umat Islam khususnya dan manusia secara keseluruhan pada umumnya.

Diantara pendapatnya sebagai tawaran solusi dari permasalahan umat yang terjadi, yaitu di saat terjadi kelaparan di berbagai daerah pulau Jawa dan bertepatan dengan waktu Hari Raya Idul Fitri, dimana setiap orang muslim yang masih hidup di saat idul fitri tiba, maka  dikenakan membayar zakat fitrah dengan memberikan makanan pokok sesuai apa yang dikonsumsi di suatu daerah tertentu, sebagaimana apa yang telah diatur dan tertulis dalam kebanyakan kitab fiqh yang mengupas nilai-nilai hukum ajaran agama Islam, maka beliau memfatwakan diperbolehkannya zakat fitrah berupa jagung.

Fatwa Beliau akan zakat fitri itu dapat di terima oleh masyarakat umum dengan tanggapan positif dan menggembirakan, walaupun pada awalanya fatwa tersebut mendapat perlawanan keras dari Syach Masduqi Lasem,  tentang ketidak bolehan membayar zakat fitrah berupa jagung berdasarkan 15 kitab yang jadi pedomannya (referensi). Kisah Gus Mus, dalam memperingati 40 hari kewafatan K.H. Ahmad Muhammad SahalMahfudz di lat VIII Gedung PBNU.

Kisah yang lain akan kearifan Fatwa Agama oleh Mbah Baidlowi, yaitu: di awal kemerdekanan Republik Indonesia, pada saat itu banyak pertanyaan dari kaum muslimin khususnya warga Nahdliyyin, mempertanyakan apakah sah Ir. Soekarno sebagai pememipin atau Presiden dari Negara Kesatua Republik Indonesia, yang mayoritas penduduknya itu beragama Islam?.

Untuk menjawab pertanyaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat kaum Nahdliyyin khusunya, beliau mengajukan usulan agar Ir. Soekarno dianugrahi gelar waliyyul al-amri ad-dharuru bi as-saukah (pemegang pemerintahan yang bersifat darurat dengan kekuatan dan kekuasaan), dan usulan beliua itu dibawa ke forum Muktamar NU di Madiun Jawa Timur pada tahun 1947 M.

Dengan keputusan menerima apa yang diusulkan oleh Mbah Baidhowi tentang pemberian anugrah kepada Ir. Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia, demi menyudahi polimik legitimasi sah atau tidaknya Ir. Soekarno menjadi pemimpin berdasarkan hukum Fiqh.

Dengan menjadikannya sebagai pemimpin di saat Negara dalam keadaan darurat, maka lepaslah semua persyarakatan yang dikenakan dalam pandangan ilmu Fiqh tentang syarat – syarat seorang pemimpin.

Selain dikenal sebagai seorang Kiai yang pandai dan mendalami hukum fiqh, beliau juga dikenal  sebagai mursyid dan pemyebar aliran Thariqat Syathoriyyah di tanah air. Bahkan menurut K.H. Maimoen Zubair (menantu K.H. Baidhowiibn Abdul Azis) awrod yang dibaca dan diamalkan dalam thariqah Syathoriyyah itu sangat cocok untuk diamalkan oleh umat Islam yang berada di Negara Indonesia.

Sepeninggalan beliau pada tahun 1970 M, atau dua tahun lebih dulu dari tahun kewafatan Mbah Makhsum Lasem, untuk selanjutnya Pondok Pesantren yang telah diasuhnya semenjak K.H. Abdul Azis (Pendiri dan Pengasuh pertama PP Al-Wahdah) wafat, sebagai genarasi ketiga Pesantren tersebut diasuh oleh putra terakhir Mbah Baidhowi, yang bernama K.H. Abdul Hamdi Baidhowi hingga beliau wafat pada tahun 2014 M.

Leave a Comment