Share
KHR. Abdullah bin Nuh, Kyai Multi Talenta

KHR. Abdullah bin Nuh, Kyai Multi Talenta

khr-abdullah-bin-nuhBeliau adalah KH.Raden Abdullah bin Nuh bin Idris atau sering dipanggil“mama” (bapak) oleh para santrinya. Beliau dilahirkan pada tanggal 3 jumadil awal tahun 1324 H atau 30 juni 1905. Ulama yang dijuluki Al Ghazalinya Indonesia ini adalah putra dari pasangan R.H Muhaammad Nuh dan Ny.R.H. Aisyah. Ayahnya yang merupakan keturunan Prabu Siliwangi (Raja Padjadjaran) dikenal sebagai seorang ulama yang hafal Al qur’an dan menguasai kitab Ihya’ Ulumuddin karya imam Al Ghazali yang menjadi rujukan ulama di seluruh dunia. Sedangkan ibunya merupakan keturunan  Waliyullah Syaikh Abdul Muhyi (murid Syaikh Abdul Rauf Singkel) yang silsilahnya bersambung sampai dengan Rasulallah SAW.

Kyai yang  menguasai bahasa Arab, Inggris dan Belanda ini dikenal sebagai seorang yang mahir dalam membuat syair dalam bahasa Arab. Beliau sudah mencintai sastra Arab sejak kecil. Terbukti pada usianya yang baru menginjak 13 tahun beliau sudah mampu menciptakan sebuah syair dalam bahasa Arab. Kepiawaiannya dalam membuat syair dan berbahasa Arab terus berkembang hingga dikenal seluruh dunia. Bahkan beliau pernah menjadi juara pada perlombaan membaca syair yang diadakan oleh pemerintahan Mesir yang kala itu dipimpin oleh Presiden Gamal Abdul-Naseer.

Selain menulis syair, Mama Abdullah bin Nuh juga aktif menulis buku dan beberapa artikel yang dimuat di berbagai media cetak nasional dan internasional, salah satunya adalah majalah Rabithah Alam Islamy. Karya-karya beliau banyak dikagumi penggemarnya di seluruh dunia. Kemampuan berbahasa Arabnya sangat baik, bahkan ketika bukunya yang berjudul “Ana Muslim” dibaca oleh orang Arab mereka tidak percaya bahwa yang menulis buku tersebut  adalah orang Indonesia, sehingga beliau menjadi terkenal di jazirah Arab.

Ulama yang sempat belajar di Universitas  Al Azhar mesir ini selain aktif menjadi seorang penulis dan penyair, beliau juga terkenal sebagai seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Beliau pernah menjadi Daidancho (komandan batalion) PETA (Pembela Tanah Air) pada akhir tahun 1943 yang berasrama di Semlak, Bogor. Perjuangannya untuk Kemerdekaan bangsa Indonesia begitu besar, beliau bahkan pernah dipenjara oleh belanda namun berhasil lolos. Sikapnya yang tegas menjadi ketakutan tersendiri bagi Belanda saat itu.

Perjuangannya juga dilakukan dalam dunia politik. Beliau tergabung dalam Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) sebelum akhirnya berhenti dengan alasan enggan melibatkan diri dalam perpecahan umat Islam. Beliau sempat ditawari untuk menjadi ketua MUI Jawa Barat. Beliau tidak menolak, melainkan hanya memberikan syarat. Syarat yang beliau ajukan adalah tidak mau digaji ketika menjabat sebagai ketua MUI, namun permintaan tersebut di tolak. Beliau betul betul menjadi uswatun hasanah bagi umat islam di Jawa Barat saat itu.

Beliau hadir sebagai pelayan umat, perjuangannya dalam bidang sosial lebih banyak memberikan memberikan informasi keagamaan dan pemikiran pemikirannya melalui ceramah dan tulisan-tulisannya yang dimuat diberbagai media. Cita-citanya dalam mencapai persatuan umat tercermin dari sikap beliau yang tidak mau terlibat dalam hal yang berakibat pada perpecahan umat. Seluruh hidupnya diabdikan untuk agama islam.

Pendiri Islamic Center Al Ghazali dan Majelis Al-ihya’ Bogor ini wafat pada hari senin, 26 Oktober 1987 pukul 19.15 WIB. Beliau dimakamkan di Sukaraja, Bogor, Jawa Barat. Kepergiannya menjadikan kehilangan yang sangat mendalam bagi seluruh santri dan jama’ahnya. Mereka kehilangan sosok orang seperti beliau yang begitu ikhlas dan sangat tawadhu. Beliau mewasiatkan kepada murid kesayangannya  Muhammad Husni Thamrin untuk melanjutkan perjuanganya. [Bayu Chairu Mahad]

Leave a Comment