Share
Al-Khansa’ : Sang Penyair dan pemimipin perempuan di Zaman Rasulullah

Al-Khansa’ : Sang Penyair dan pemimipin perempuan di Zaman Rasulullah

Nama lengkapnya adalah Al-Khansa’ Tadhamir binti Amr Ibn Al-Syuraid. Ia berasal dari keturunan bani Salim. Al-Khansa merupakan seorang sahabat perempuan Rasulullah Saw yang berakhlak mulia, gadis mulia, fasih lisannya, pemimpin perempuan dan ahli penyair perempuan di zaman Rasulullah yang ulung, sehingga beliau diberi gelar Sya’ir al-Rasul (Penyair Rasulullah Saw).

Rasulullah begitu takjub dan lemah lembut memanggilnya. Hal ini menjadi titik awal peran Al-Khansa sebagai sahabat perempuan sekaligus penyair yang tidak hanya dikagumi oleh para sahabat tetapi juga oleh Rasulullah SAW.

Suatu ketika, Al-Khansa mengalami keadaan yang sangat menyedihkan, sehingga dia melantunkan bait-bait syair yang panjang untuk meratapi kepergian saudaranya yang bernama Shakhr. Al-Khansa begitu menjiwai syairnya tersebut. Begitu juga ketika meratapi kematian saudara kandungnya yang bernama Muawiyah.

Di antara syairnya sebagai ungkapan duka yang menyelimuti atas kepergian kedua saudaranya adalah:

Telah membuatku lelah, kemurahan hati yang tak pernah beku

Ayo menangislah, hujan gerimis untukmu, Shakhr

Mari menangislah untuk sang pemberani dan rupawan

Ayo menangislah untuk pemuda yang menjadi pimpinan berpedang panjang

Di hari yang sangat kelabu, masih begitu mudah memimpin keluarga.

Syair-syairnya tidak lebih dari dua atau tiga bait, namun di dalamnya terkandung makna yang dapat membangkitkan jiwa seseorang, sehingga Rasulullah Saw memanggil dan memintanya untuk menambah bait-bait syairnya.

Tambah lagi, ya khannas!”, pinta Rasulullah SAW kepada Khansa. Dengan ungkapan inilah Nabi Muhammad memanggil Khansa agar menambahkan syairnya.

Selain itu, Al-khansa juga memiliki keistimewaan lain, yakni jiwa kepemimpinan. Hal tersebut tampak pada dua peristiwa, 1) ketika Khansa menasehati ke empat orang putranya yang hendak perang berjihad di jalan Allah.

“Wahai putra-putraku, kalian telah masuk Islam dengan penuh kepatuhan, kalian telah hijrah hijrah atas pilihan kalian sendiri, Demi Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, kalian adalah putra-putra dari satu orang lelaki sebagaimana kalian putra-putra dari satu orang perempuan. Belum pernah aku hiyanati ayah kalian, belum pernah aku permalukan paman kalian, belum pernah aku asingkan keturunan kalian, dan belum pernah aku ubah garis ketulusan kalian. Kalian semua sudah mengetahui pahala besar yang Allah janjikan bagi orang-orang Islam yang memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah! Tempat tinggal yang kekal lebih baik daripada tempat tinggal yang fana.”

Selepas itu keluarlah ke empat putranya sambil memegang teguh nasihat sang ibu, dengan segenap keyakinan untuk melaksanakan segala petuahnya. Ketika hujan mulai reda, cahaya mulai menerobos kegelapan mereka langsung menuju ke pos masing-masing.

2) perkataan beliau ketika ke empat anaknya telah gugur di medan perang. Nasehatnya pun disampaikan dengan sangat baik. Al-Khansa berkata:

“Segala Puji bagi Allah, yang telah memuliaanku dengan gugurnya putra-putraku. Aku berharap kepada Rabb-ku untuk bekumpul dengan mereka di tempat yang dinaungi rahmat-Nya.”

Para muslimah seyogyanya menjadi penerus peradaban Islam, salah satunya melalui puisi. Wahai muslimah, sadarlah dari rayuan-rayuan kebiadaban zaman dan berpaculah terus dalam mengguratkan tinta emas demi kebangkitan kejayaan peradaban Islam.

Syair-syair Al-Khansa menjadi suatu media ampuh dalam memperjuangkan berdirinya panji-panji agama Allah di tengah masyarakat yang masih mencintai kebiadaban. Kata yang terucap dari lisannya menjadi suatu kelebihan yang luar biasa sampai menggetarkan hati ke empat anaknya untuk berjihad di jalan Allah. Bahkan Rasulullah pun takjub kepadanya.

Leave a Comment