Share
Memaknai Perbedaan Dari Lensa

Memaknai Perbedaan Dari Lensa

Setiap orang terlahir unik dan berbeda… Maka jadikanlah perbedaan itu indah, dengan segala dimensi maknanya… Karena nurani bangsa kita merangkul semua perbedaan…

Kata-kata indah di atas muncul begitu saja dari obrolan ringan saya dengan seorang pemuda multi talenta di salah satu sudut kota London belum lama ini. Andi Ahmad Miskil Khitam, nama pemuda itu. Lahir dari pasangan H. Ardla’ah Ahmad dan Hj. Sutra Atiqah di Situbondo, 28 Februari 1988, Akil –begitu ia biasa disapa— adalah sosok penting di balik lahirnya banyak karya seni apik dalam rupa film dan musik yang bukan hanya menghibur, tetapi sangat mendidik. Salah satu karyanya yang kini mulai ramai diperbincangkan adalah sebuah film pendek berjudul “JIka Salah Karena Aku berbeda.”

Diproduksi dengan peralatan yang seadanya, film pendek yang melibatkan banyak santri Ponpes Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur ini memuat isu penting yang mulai hilang dari perbincangan kebanyakan orang, yakni tentang perbedaan. Diakui Akil, film pendek ini berisi kritiknya terhadap tema perbedaan.

“Saya memperluas konsep perbedaan itu sendiri tidak hanya dalam masalah agama, ideologi, dan semacamnya, tapi juga kepada perbedaan yang ada pada masing-masing individu secara lahiriah,” ungkapnya.

Perbedaan, menurutnya, bersumber dari jalan pikir dan ide-ide yang keluar dari pikiran mainstream masyarakat. Dari pola pikir inilah, muncul sekat-sekat pembeda yang kemudian digunakan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Uniknya, perbedaan yang berasal dari pikiran mainstream ini sifatnya spasial dan temporal; apa yang baik untuk masyarakat sini belum tentu (dianggap) baik untuk masyarakat sana.

Akil sepertinya tidak hanya bermain dengan wacana ketika ia mengkritik pandangan kebanyakan masyarakat tentang perbedaan. Pria muda yang kini sedang dikontrak secara ekslusif untuk membuat Film Pendek Dokumenter STKBM Tanjung Priok Jakarta ini mengalami sendiri peliknya menghadapi fakta perbedaan di sepanjang pengalaman hidupnya.

Terlahir dari orang tua yang menjadi tokoh agama cukup disegani di wilayahnya, berkesenian tentu tidak pernah masuk dalam daftar pilihan karir untuknya. Karenanya, ketika ia mulai fokus pada dunia seni, pertentangan dari keluarga sering ia dapatkan. Terutama karena ia dan keluarganya tinggal di lingkungan pesantren yang tentu saja sangat agamis. Namun Akil tetaplah Akil, sosok berjiwa seni yang sangat keras kepala. Walau seringkali mendapat cap negatif dari masyarakat dan lingkungannya, ia tetap melakukan apa yang ia cintai; seni.

Selain film pendek di atas, Santri yang penuh kreasi ini juga telah menelurkan banyak karya kreatif lainnya, termasuk dalam dunia musik. Bakat bermusik Akil mengalami perkembangan pesat saat ia duduk di bangku SMP, di saat itu pula ia telah mulai belajar bukan saja untuk memainkan musik, tetapi juga berkarya di jalur musik. Keteguhannya terbayar, 2011 ia menyabet juara II di lomba cipta lagu RRI yang tidak sengaja ia ikuti.

Sempat mendapat tawaran untuk berkiprah di dunia musik profesional di Ibu Kota dari perusahaan rekaman ternama yang menaungi artis-artis besar, Akil bersikukuh menempuh jalur indie demi idealismenya. Pencipta lagu Mars dan hymne IKSASS ini lebih merasa nyaman dengan kebebasan berkarya secara independent, di mana ia bisa merekam sendiri lagu-lagunya, serta membuat sendiri video musiknya.

Akibat idealismenya ini, Akil mengaku sering melakukan semuanya sendiri, mulai dari proses menulis lagu, aransemen, mixing, menulis naskah skenario, menyutradarai, melakoni, dan bahkan mengedit hingga finishing, semuanya ia lakukan sendiri. Baginya, semuanya ini demi kepuasan batinnya. Akil memang tidak terlalu produktif dalam menghasilkan karya, namun ia memang tipe seniman klasik; hanya akan berkarya ketika sudah jelas orientasinya.

Berikut salah satu karyanya:

Beberapa karya lainnya dapat dilihat pada tautan berikut

  1. Situbondo East Side Of Paradise
  2. Sang Pemenang
  3. Trailer Flashback Napak Tilas 1 Abad PP Sukorejo

 

Leave a Comment