Share
Dikira Sakti… (Keping Cerita KH. Hasyim Muzadi)

Dikira Sakti… (Keping Cerita KH. Hasyim Muzadi)

Kegiatan Kiai Hasyim hari itu di kota Malang terbilang padat. Selain menemui tamu-tamu yang berdatangan silih berganti ke rumah beliau dengan beragam keperluan, beberapa agenda acara di luar juga menanti. Belum lagi jadwal wawancara panjang yang memang sudah direncanakan jauh hari sebelumnya.

Sebagai Ketua PWNU Jawa Timur yang hendak mengakhiri masa baktinya sekaligus telah memutuskan menjadi seorang calon Ketua Umum PBNU, kesibukan Kiai Hasyim bukannya makin berkurang, tetapi malah makin menumpuk seiring dengan makin dekatnya masa perhelatan Muktamar NU ke-30 di Lirboyo Kediri bulan November 1999.

Disamping itu, tugas sebagai seorang muballigh juga mengharuskan beliau menghadiri undangan-undangan ceramah di berbagai tempat, nyaris tanpa mengenal hari libur.

Adalah hal yang biasa bagi Kiai Hasyim dalam sehari menjalani aktivitas dengan peran dan tugas yang beragam, serta tema kegiatan yang bermacam-macam.

Seperti yang terjadi waktu itu. Sehabis melayani urusan tamu-tamu yang bersilaturrahim ke kediaman, Kiai Hasyim bergegas berangkat untuk menyampaikan ceramah agama di sebuah desa di Malang.

Karena sopir yang biasanya mengantar beliau belum juga datang, sementara panitia acara yang sudah lama menunggu di rumah beliau untuk menjemput mulai tampak gelisah lantaran jam pelaksanan acara sudah semakin dekat, akhirnya Kiai Hasyim memutuskan untuk menyetir sendiri mobilnya.

Mesin mobilpun dinyalakan, dan Kiai Hasyim mempersilahkan dua orang panitia acara yang menjemput beliau untuk duduk di kursi belakang. Merekapun terlihat memasuki mobil dengan sedikit salah tingkah seolah sedang menahan rasa sungkan dan malu karena akan disopiri sendiri oleh Kiai Hasyim, tokoh yang justru mereka undang sebagai nara sumber utama.

Tapi nampaknya salah satu pintu mobil bagian belakang belum tertutup rapat, sehingga Kiai Hasyim menyuruh membuka pintu itu kembali dan menariknya kuat-kuat.

“Pak, pintu belakang sebelah kiri belum tertutup rapat. Tolong dibuka lagi dan ditarik yang kuat,” ujar beliau.

Di luar dugaan, tiba-tiba kedua orang panitia acara yang duduk di kursi belakang itu terkejut dan saling pandang sejenak, lalu sama-sama berbisik;

“Haah?? Kiai ternyata ‘pirso’ (bisa tahu)!” kata mereka pelan dan nyaris serentak, sambil tetap memperlihatkan wajah seolah-olah baru saja mengalami sebuah kejadian aneh yang sulit dinalar.

Sepertinya mereka tidak menyangka dan bingung memikirkan bagaimana Kiai Hasyim bisa tahu pintu belakang mobil belum tertutup rapat, padahal beliau duduk di kursi sopir, dan sama sekali tidak melihat ke arah mereka.

Bahkan lebih mengherankan lagi bagi mereka lantaran Kiai Hasyim bisa “mendeteksi” pintu belakang sebelah mana yang kurang rapat dan harus ditutup ulang.

Kiai hasyim hanya senyum-senyum menanggapi keheranan mereka. Tapi penulis yang kebetulan duduk di samping beliau tidak bisa menahan derai tawa spontan demi melihat “keluguan” dua orang itu.

Mereka ternyata belum tahu bahwa di layar multi-information display yang terletak di dashboard depan tempat duduk sopir terdapat instrumen gambar lampu peringatan pintu terbuka di semua sisi mobil, yang akan menyala otomatis bila pintu belum tertutup rapat.

Usai berceramah, Kiai Hasyim bertutur ringan mengomentari sepenggal cerita menggelikan di mobil tadi.

“Jadi saya dikira sakti ya. He..he..”

“Itulah realitas sebagian warga kita di pedesaan. Makanya kita harus bijak, bisa menyesuaikan diri, dengan siapa kita berinteraksi,” pungkas beliau sambil mengingatkan betapa kondisi pengetahuan masyarakat sangat beragam, sehingga menuntut kesadaran para tokoh dan pemimpin untuk bisa bertutur kata dan bersikap sesuai kadar pemahaman umatnya atau orang-orang di sekitarnya

Leave a Comment