Share
Agar Tidak Buta Karena Harta

Agar Tidak Buta Karena Harta

Sabar dan syukur adalah dua pokok ajaran dalam Tasawuf. Kedua hal ini menjadi cara bagi seorang sufi untuk melakukan tazkiyatun nafs dalam hidupnya di dunia. Meski begitu, ketika kedua jenis maqamat ini dibenturkan dengan masalah harta benda/ berbau dunia, ternyata dapat menimbulkan berbagai perdebatan. Utamanya tentang perebutan keutamaan; mana yang lebih utama antara sabar dan syukur.

Timbullah pertanyaan seperti ini, manakah yang lebih utama diantara kedua hal ini; orang sabar namun miskin, ataukah orang kaya yang selalu bersyukur akan karunia yang dimilikinya? Pertanyaan tersebut di masa klasik pernah menjadi topik hangat yang dibincangkan di kalangan ulama sufi. Salah seorang di antaranya adalah Imam Junaid Al-Bagdadi. Ia mengutarakan pendapatnya, bahwa yang paling utama ialah orang miskin yang sabar dengan keadaan hidupnya. Beliau lebih cenderung membela golongan orang miskin yang selalu sabar, tidak mengeluh, dan tidak menyalahkan Tuhan untuk  belitan kemiskinan yang dideritanya.

Namun, pendapat beliau disanggah oleh Imam Ibnu Atha yang berpendapat, “jika orang  kaya juga pandai mensyukuri kekayaan dengan cara menjalankan hak-haknya, seperti bersedekah, berzakat, berinfaq, maka yang paling utama adalah orang yang kaya ketimbang apa yang dikatakan oleh Imam Junaid tadi”.

Tidak ada yang salah dengan kedua pendapat di atas, karena masing-masing pandangan yang dikemukakan pasti memiliki dasar pijakan yang valid.

Di lain pihak, Imam Al-Ghazali menambahkan satu pandangan lagi terkait hal yang menjadi perdebatan tadi. Menurutnya, kekayaan akan jauh lebih bermanfaat bila dijadikan wasilah untuk menunjang ibadah kepada Tuhan. Seperti menunaikan ibadah Haji –yang jelas memerlukan dana— serta untuk berbuat kebajikan, seperti menyantuni sesamanya yang hidup dalam kemiskinan atau anak yatim-piatu.

Selaras dengan hal ini, Rasul Muhammad Saw bersabda, “tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah.” Artinya, orang yang memberi lebih utama daripada yang diberi. Seorang yang dermawan lebih baik ketimbang seorang pengemis. Meski begitu, Imam al Ghazali juga menegaskan harus ada etika bagi orang miskin, yaitu agar selalu memiliki jiwa yang tegar dalam menghadapi belitan kemiskinan dalam kehidupannya.

Beliau kemudian memberikan resep bagi orang-orang miskin; Pertama, jiwa atau batinnya tidak membenci cobaan-cobaan yang diberikan Tuhan, yakni berupa kemiskinan yang menimpanya. Kedua, kemiskinannya harus ditutupi dan tidak ditampakkan. Ketiga, tidak boleh merendahkan diri di hadapan orang kaya di hadapannya. Dan yang keempat, kemiskinannya tidak membuatnya malas beribadah.

Kepekaan sosial harus ditumbuhkan pada diri orang-orang yang berkecukupan. Karena itu, sebagai titik tekannya ialah ‘mensyukuri ‘ dengan cara menyisihkan sebagian rezeki yang diperoleh untuk orang-orang yang membutuhkan. Hal ini bisa dikatakan sebagai sosialisme berwujud religius, lantaran ajaran tasawuf sendiri hanya bisa diejawantahkan dalam bentuk sosialis, bukan dalam bentuk kapitalis yang menindas.

Sederhananya, ajaran tasawuf yang sejati membenci kemalasan, kelesuan, dan pengangguran. Ajaran tasawuf juga berfungsi untuk mendukung kemajuan ekonomi dengan menggenjot etos kerja. Tetapi, yang menjadikan esensi tasawuf berbeda ialah karena peniscayaan hati seorang sufi (pelaku tasawuf) untuk tidak bergantung pada harta benda. Orang yang melakoni jalan tasawuf boleh saja hidup bergelimang harta dan serba berkecukupan, tetapi hatinya harus senantiasa disandarkan hanya kepada Tuhan, bukan kepada materi atau harta yang dimilikinya.

Hubbu al-dunya (cinta terhadap dunia atau harta benda) yang dibenci adalah apabila hati seseorang secara total sangat bergantung kepada materi dan benda, terlepas apakah ia orang kaya atau orang miskin. Pelarangan untuk bergantung kepada harta dunia akan membantu seseorang untuk tidak lupa diri ketika kaya dan rendah diri ketika tidak berpunya. Inilah wujud dari hati yang tidak tergantung kepada harta benda; tetap stabil, tenang, dan lapang, apapun keadaannya.

Leave a Comment