Share
Sowan Pedagang Pasar (Keping Cerita KH. Hasyim Muzadi)

Sowan Pedagang Pasar (Keping Cerita KH. Hasyim Muzadi)

Kiai Hasyim meyakini, beberapa Kiai yang sejak awal getol menyuruhnya mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU untuk menggantikan Gus Dur pasti punya alasan “khusus”, selain alasan yang secara resmi diutarakan.

Maka tak heran kalau kemudian nuansa “khusus” itu banyak dijumpai beliau hingga menjelang Muktamar NU ke-30 digelar bulan November tahun 1999.

Entah bagaimana ceritanya, selama masa pencalonan, Kiai Hasyim sering didatangi orang-orang tak dikenal yang secara lahiriah, penampilannya seperti Kiai desa; sangat sederhana, tidak banyak bicara, dan hanya menyampaikan sesuatu yang dirasa penting, lalu pamit pulang begitu saja.

“Ada yang datang ngasih keris. Ada yang ngasih batu akik. Ada yang memberi doa. Pokoknya macam-macam.”

“Akhirnya di rumah saya ini banyak jimat. Saya jadi seperti dukun. Padahal saya juga tidak tahu apa khasiatnya.” kata beliau sambil terkekeh.

Pengalaman yang paling membuat beliau surprised adalah ketika disuruh Kiai pergi keliling ke berbagai daerah, bukan untuk menggalang dukungan suara Cabang atau Wilayah NU, melainkan sowan kepada Kiai-Kiai tertentu di sana, yang nama-namanyapun belum pernah beliau dengar sebelumnya.

“Saya diperintah pergi ke Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan, dan daerah-daerah lain yang sangat jauh.”

“Masih mending kalau rumahnya di kota. Rumahnya rata-rata di pelosok. Malah ada yang di tengah hutan.”

“Rasanya waktu itu seperti cerita pendekar silat dalam komik Ko Ping Ho,” tutur beliau tersenyum.

Akibatnya Kiai Hasyim kadang harus menyambung perjalanan dengan berjalan kaki menuju tempat tinggal para Kiai tersebut, karena jalurnya tidak bisa dilalui kendaraan.

Safari spiritual yang sulit dilupakan beliau adalah saat diperintah untuk minta restu kepada seorang Kiai di wilayah ujung bagian barat pulau Jawa.

“Nanti kalau sudah ketemu orangnya, sampaikan salam saya,” kata Kiai di Jawa Timur yang memerintah Kiai Hasyim.

Beliaupun berangkat. Tapi begitu sampai di daerah yang dituju, orang-orang di sana yang ditanyai ternyata tak ada satupun yang tahu atau mengenali Kiai yang akan disowani Kiai Hasyim.

Setelah cukup lama berputar-putar mencari informasi, akhirnya beliau bertemu seseorang yang memberitahu tentang Kiai yang hendak ditemui.

“Ada sih Pak, orang yang namanya sama seperti itu. Tapi dia pedagang di pasar, bukan Kiai, ” jawabnya seraya menunjukkan arah ke rumah si pedagang.

Tanpa berpikir panjang, Kiai Hasyim langsung menuju rumah pedagang pasar itu sebagaimana dijelaskan orang yang dijumpai sebelumnya.

“Saya Hasyim Muzadi, Kiai. Saya menyampaikan salam dari Kiai…,” kata beliau memperkenalkan diri saat bertatap muka dengan Kiai “tak dikenal” tersebut.

“Iya saya sudah tau Pak Hasyim mau kemari. Sampaikan salam balik saya. Bilang ke beliau, saya merestui. Sudah, itu saja. Sekarang Pak Hasyim silahkan pulang lagi,” jawabnya singkat, tanpa memberi kesempatan Kiai Hasyim untuk meneruskan kalimatnya, atau menceritakan maksud kedatangannya secara detail.

Meski sempat kaget karena perjalanannya yang jauh ternyata berujung pada sebuah pertemuan yang berlangsung hanya beberapa menit saja, Kiai Hasyim mafhum bahwa yang ditemui bukanlah sosok Kiai sembarangan, sebagaimana beberapa Kiai yang telah dijumpai sebelumnya di pelosok Sumatera dan Kalimantan.

Penjelasan kata-kata tidak lagi diperlukan oleh orang-orang “khusus” seperti mereka. Bahkan absennya teknologi informasi dan komunikasi seakan tidak pernah menghalangi kepekaan inderanya atau pengetahuan “paripurnanya” terhadap dinamika peristiwa di dunia luar yang berjarak ratusan kilometer dari lingkungannya sekalipun.

“Orang-orang seperti itulah yang selalu menjaga NU, menjaga bangsa Indonesia, dengan tulus.”

“Mereka tidak pernah mengharapkan pujian dan imbalan apapun dari manusia. Mereka justru tidak mau muncul, tidak ingin dikenal.”

“Dijadikan pengurus NU saja tidak mau, apalagi ditawari jadi pejabat negara. Tapi tiap hari mendoakan NU, mendoakan umat. Mereka paling sedih dan kepikiran kalau NU sedang menghadapi masalah,” tutur Kiai Hasyim lirih.

Beliau seakan merasa malu pada diri sendiri, karena perjuangan yang telah dilakukannya selama ini demi membesarkan NU dan membimbing masyarakat, sebenarnya belum seberapa jika dibandingkan dengan kualitas komitmen ke-NU-an dan keindonesiaan yang diberikan oleh para Kiai “langit” tersebut secara sunyi dan jauh dari publisitas, termasuk Kiai yang cuma dikenal oleh masyarakat sekitarnya sebagai seorang pedagang pasar itu.

Leave a Comment