Share
Mengenal Kyai Sholeh Darat: Sang Mufassir Dari Tanah Jawa

Mengenal Kyai Sholeh Darat: Sang Mufassir Dari Tanah Jawa

Biografi

Kiai Sholeh Darat adalah salah satu ulama besar di Indonesia. Meskipun nama beliau kalah tenar dengan ulama-ulama lain seperti KH. Nawawi al-Bantani, K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Kholil Bangkalan, Dll, namun hal itu tidak menghilangkan kharisma yang muncul dari diri beliau. Di sisi lain, beliau turut andil dalam perkembangan Islam di tanah Jawa.

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Sholeh Ibn Umar al-Samarani, namun beliau lebih dikenal dengan nama K.H. Sholeh Darat. Julukan “Darat” beliau dapat karena beliau berasal dari daerah darat. Di daerah Semarang pada abad ke 19 terdapat pelabuhan dagang yang sangat penting dan menjadi tempat berlabuh para pedagang dari negara-negara lain seperti Persia, Arab, India dan beberapa negara di Eropa. Karena tempat  pelabuhan tersebut sering dijadikan Ndarat (bersandar) oleh para padagang, maka daerah tersebut dinamakan dengan nama Darat. Sedangkan nama “Samarani” menunjukkan bahwa beliau hidup di daerah semarang.

Beliau lahir di desa Kedung Jumbleng, Jepara, Jawa Tengah sekitar tahun 1820 M. Beliau adalah penerus dari Ayahnya yakni Kiai Umar. Beliau wafat sekitar tahun 1903 M dimakamkan di Semarang, tepatnya di pemakaman umum Bergota.

Genealogi pemikiran

Menurut sejarah, pembelajaran pertama yang beliau dapat berasal dari ayahnya sendiri, yakni Kiai Umar. Namun beliau hanya sebatas mempelajari tentang cara membaca surat-surat pendek dalam Juz ‘Amma, serta ilmu Fiqh dasar, seperti cara Sholat dan wudlu.

Setelah beliau mempelajari beberapa ilmu dari ayahnya, Kiai Sholeh Darat melanjutkan menuntut ilmu ke beberapa Ulama di tanah Jawa seperti K.Ishaq, Syaikh Ahmad Bafaqih Ba’lawi, syaikh ‘Abd al-Ghany, dll. Setelah dirasa cukup mempelajari ilmu di tanah Jawa, beliau melanjutkan rihlah keilmuannya ke tanah Arab, sebab pada saat itu Makkah dan Madinah menjadi pusat keilmuan Islam di  dunia.

Hubbu al-Wathan Minal Iman adalah suatu gambaran yang sesuai dengan sifat Kyai Sholeh darat, sebab beliau masih berkeinginan kembali ke tanah air dan mengajarkan ilmu-ilmu yang telah beliau dapat. Beliau mengajar di pondok pesantren Salatiang. Setelah itu pada tahun 1870-an beliau mendirikan pondok di daerah Darat, Semarang.

Karya-karya

Kiai Sholeh Darat memiliki banyak karya, di antaranya:

  1. Munjiyat
  2. Matn Hikam
  3. Lathaif al-Thaharah
  4. Hadis al-Mi’raj
  5. Syarh al-Barzanji
  6. Minhaj al-Atqiya’ fi Syarh Ma’rifah al’Azkiya’
  7. Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik al-Dayyan

Kitab yang terakhir merupakan salah satu tafsir pertama yang muncul di Indonesia, oleh karena itu selayakanya beliau dinamakan sebagai Mufassir tanah Jawa. Dalam beberapa karyanya, beliau menggunakan bahasa Pegon, yakni bahasa Arab semi Jawa. Apa yang dilakukan oleh Kyai Sholeh Darat ini pada dasarnya ingin menghilangkan hegemoni bahasa latin yang disebarkan oleh kolonialisme Belanda pada zaman itu.

Kontribusi Kyai Sholeh Darat Terhadap Penafsiran Nusantara

Pada abad ke-16 ditemukan suatu produk tafsir yakni Tafsir Surat al-Kahfi, kitab ini diyakini sebagai produk tafsir pertama di Indonesia. Satu abad kemudian, tepatnya abad ke-17, muncul tafsir Turjuman al-Mustafid karya Abdur Ra’uf as-Sinkili; beliau adalah yang pertama kali menafsirkan alQuran secara lengkap, 30 juz. Kemudian pada akhir abad ke-19, Kyai Sholeh Darat menulis sebuah kitab tafsir yang berjudul Faidh ar-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik al-Dayyan. Kitab ini terdiri dari 2 jilid; jilid yang pertama mencakup surat al-Fatihah sampai surat al-Baqarah, serta jilid kedua terdiri dari surat Ali-Imran sampai surat an-Nisa.

Keberadaan tafsir Faidh ar-Rahman, semakin menguatkan eksistensi tafsir nusantara yang bisa dijadikan rujukan dalam penafsiran. Meskipun kitab ini tidak mencakup semua ayat-ayat alquran secara lengkap, namun setidaknya bisa dijadikan sebagai rujukan untuk memperkaya khazanah tafsir nusantara, bahkan khazanah keilmuan Islam seluruhnya. Terlebih lagi Kyai Sholeh Darat menggunakan bahasa pegon yang selayaknya lebih muda dipahami oleh penduduk lokal, daripada kitab tafsir lain yang kebanyakan menggunakan bahasa Arab.

 

1 Comment on this Post

  1. Sip sangat bermanfaat….

    Reply

Leave a Comment