Share
Memahami Kelakar ala Nahdlatul Ulama

Memahami Kelakar ala Nahdlatul Ulama

Celetukan gelar “Sunan Kalijodo” yang dilontarkan secara spontan oleh Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor, KH. Yaqut Cholil Qaoumas, untuk calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) menjadi viral dan terus menggelinding ke segala arah.

Aneka reaksi, baik yang positif maupun negatif, yang dingin maupun yang panas, terus bermunculan sejak celetukan kelar itu disampaikan pada Jum’at, 4 April 2017, di Kantor GP Ansor, Jalan Kramat Raya, Jakarta.

Atas celetukan gelar ini, Gus Yaqut – sapaan akrab Yaqut Cholil Qoumas – beralasan sederhana, tidak akademik, tidak njelemet apalagi teologis; yakni Ahok hidup di Jakarta dan telah mengubah masyarakat yang hidup dalam gelimang dunia hitam di Kalijodo menjadi masyarakat yang bersih secara substansial.

Seperti diketahui, sebelum disulap secara radikal oleh Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta, Kalijodo identik sebagai daerah berplat remang-remang, bahkan daerah hitam. Melalui kebijakan “tangan besi”nya, Ahok melakukan terobosan radikal.

Dampaknya, Kalijodo yang dulunya dipandang negatif selama kepemimpinan beberapa gubernur sebelumnya kini berwajah terang bercahaya. Banyak yang lantas menyanjungnya. Bahkan kini menjadi tempat yang ramah lingkungan dan ramah masyarakat. Juga menjadi tempat bermain yang menyenangkan.

Inilah alasan sederhana kelakar julukan Sunan Kalijodo itu, dengan sedikit memelesetkan atau tepatnya meniru julukan bagi Sunan Kalijaga yang disandang oleh Raden Said, putera Adipati Tuban Tumenggung Arya Wilatikta atau Raden Sahur.

Tampaknya, julukan Sunan Kalijodo ini direaksi negatif oleh sebagian kalangan karena dua hal. Pertama, karena anggapan “sakralitas” istilah sunan yang dilekatkan pada Kalijodo yang dulunya identik sebagai tempat negatif.

Dikatakan, sunan itu terambil dari kata susuhunan yang bermakna tokoh yang dihormati. Karenanya, dalam tradisi keislaman di Jawa, seringkali sunan digelarkan untuk tokoh muslim yang berpengaruh, seperti para Wali Songo.

Ketika dengan berkelakar gelar sunan ini disematkan pada Ahok, yang berlainan agama dan keyakinan, maka ini dinilai mengada-ada dan menggangu rasa kebatinan kaum muslim – entah kaum muslim mana yang dimaksudkan sesungguhnya–.

Bahkan ada sebagian kalangan yang begitu seriusnya menanggapi kelakar ini, bahwa setelah mendapat gelar sunan, tak lama lagi Ahok akan mendapat gelar nabi atau bahkan rasul. Tentu saja, dugaan-dugaan ini sangat berlebihan dan bisa dipastikan pelakunya tidak mengenal secara baik kekhasan tradisi Nahdlatul Ulama (NU).

Kedua, ramainya hal-ihwal menyangkut Ahok tak lain karena beririsan dengan suasana panas jelang Pilkada tahap dua, yang  diselenggarakan pada 19 April 2017 lalu. Dari Qs. al-Maidah ayat 51, lalu larangan shalat jenazah bagi pendukung Ahok, isu pribumi-nonpribumi, semua menjadi hingar-bingar karena Pilkada. Andaikan tidak beririsan dengan Pilkada, tentu semua akan menjadi hal biasa yang tidak banyak direaksi negatif.

Semata Kelakar  

Bagi mereka yang mengenal tradisi Nahdlatul Ulama (NU) dan pesantren dengan baik, sesungguhnya celetukan kelakar yang demikian bukanlah hal asing. Karenanya tidak perlu direaksi secara serius, njelimet atau akademik, hingga menyeret-nyeret dalil agama.

Dalam tradisi NU, dan secara spesifik pesanten, kelakar berupa pujian, kritikan, dan sejenisnya, itu lumrah dilakukan semata untuk mencairkan suasana. Tiap hari para santri dan warga nahdliyyin mendengar suguhan humor dan kelakar dari para tokohnya. Semua enjoy saja.

Karena itu, hampir semua kiai di lingkungan NU, baik kiai yang struktural maupun kiai yang kultural, senantiasa memiliki kelihaian berkelakar. Joke-joke yang menggelikan biasa disampaikan oleh mereka di berbagai ruang dan waktu.

Presiden Republik Indonesia (RI) ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga Mantan Ketua PBNU, termasuk yang dikenal memiliki selera humor sangat tinggi. Tak pandang mitra dialog, siapapun diajaknya tertawa dengan leluconnya, hingga terpingkal-pingkal. Lagi-lagi ini semata untuk mencairkan kekakuan suasana.

Saking menarik dan uniknya, bahkan banyak yang membukukan humor Gus Dur, termasuk humor politiknya yang cerdas. Demikian juga humor yang berkembang di kalangan pesantren, telah banyak yang membukukannya. Bahkan dunia humor di kalangan santri telah diwarisi dari Abu Nawas, Nasarudin Hoja dan sebagainya.

Untuk itu, perlu dipahami bahwa Ketua GP Ansor Gus Yaqut adalah sosok yang dibesarkan di kalangan nahdliyyin dan pesantren. Aneka humor dan kelakaran yang cerdas biasa didengar dan dilakukannya.

Tak heran karenanya jika Gus Yaqut pandai mencairkan suasana dengan humornya yang khas itu. Bahwa di belakang kelakarnya ada nilai-nilai politik yang tersimpan, hanya beliaulah yang paling memahaminya.

Walhasil, kiranya umat Islam tidak perlu “baper” merespon kelakar Gus Yaqut, hingga menuduh dan menduga yang bermacam-macam secara tidak proporsional. Pahamilah semua itu sebagai kelakaran biasa a la warga nahdliyyin, untuk mencairkan suasana.

Leave a Comment