Share
Puasa Ramadan Sebagai Media Transformasi dan Pembebasan

Puasa Ramadan Sebagai Media Transformasi dan Pembebasan

Puasa Ramadan adalah sebuah mekanisme penyucian diri. Quran menegaskan, kewajiban puasa dimaksudkan agar orang beriman jadi lebih takwa atau bermoral (al-Baqarah, 2:183). Seluruh ibadah dalam Islam berujung pada peningkatan moral manusia (akhlak karimah). “Saya diutus ke dunia semata-mata untuk menyempurnakan akhlak karimah”, demikian sabda Rasul.

Seyogyanya, semakin seseorang bertekun dalam ibadah, semakin ia bermoral, semakin berempati kepada sesame, dan semakin peduli pada lingkungan; itulah ciri-ciri takwa. Ibadah sepenuhnya untuk kemaslahatan dan kebaikan manusia. Puasa harus dapat membuat manusia jadi lebih manusiawi, menghormati sesama dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Tapi, dalam realitas sehari-hari tidak demikian. Dalam konteks inilah Rasul menjelaskan, sebagian besar manusia puasa, namun hanya merasakan lapar dan dahaga.

Terkait puasa, perlu dijelaskan, puasa ada tiga tingkat. Pertama, disebut puasa awam, sekedar menahan diri dari makan, minum dan hubungan seksual di siang hari. Puasa model ini sebetulnya hanya memindahkan jam makan dan aktivitas seksual. Kedua, disebut puasa khusus, di samping mampu menahan diri dari tiga hal tadi, juga menahan seluruh anggota tubuh, seperti mulut, telinga, mata, kaki dan tangan dari perilaku yang berpotensi mendatangkan dosa. Ketiga, disebut sebagai puasa paling khusus karena melibatkan bukan hanya aspek jasmaniah, melainkan juga aspek batiniah, yakni menahan pikiran dan perasaan dari semua hal yang berpotensi membawa kepada dosa dan maksiat. Puasa model ini dapat meneguhkan hati dari berbagai godaan hasrat badani yang konsumtif dan hedonistik.

Puasa harus menyadarkan umat Islam bahwa musuh agama yang utama adalah ketidakadilan, kezaliman, kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan. Para pemuka agama dan penguasa (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) mengemban amanah untuk membantu masyarakat terbebas dari musuh-musuh agama tersebut.

Potret Masyarakat Dalam Bulan Ramadan

Mari amati realitas sosiologis dalam masyarakat. Seminggu jelang puasa, harga sembako dan bahan pokok lain melambung dan terus melambung sampai akhir Ramadan. Bahkan, bahan bakar (BBM) pun mengalami kelangkaan. Ironis sekali, puasa seharusnya membuat konsumsi masyarakat turun, dan akibat lanjutnya permintaan barang menurun sehingga harga-harga pun tidak melonjak. Kalau begitu, realitas yang ada dapat dimaknai sebagai ketidakbecusan pemerintah mengelola perdagangan; atau ketidakmampuan pemerintah menjaga kestabilan ekonomi; atau ketidakmampuan masyarakat menahan nafsu komsumtif dan hedonistik.

Selama Ramadan, media tak habisnya memberitakan fenomena kemiskinan, kelaparan, ketidakadilan, kezaliman, dan perilaku korup para elit. Potret warga antri sembako, antri air bersih, dan antri BBM menghiasi lembaran surat kabar. Seiring dengan itu, aktivitas dakwah meningkat drastis, mulai dari acara dakwah di TV, masjid dan musholla, acara buka bersama dan shalat tarawih di berbagai hotel berbintang dan rumah-rumah pejabat. Ringkasnya, tiada detik tanpa dakwah.

Masalahnya, apakah dakwah yang bertaburan itu secara signifikan melahirkan masyarakat bermoral dan peduli terhadap sesama? Jawabnya sudah diketahui.

Ketika waktu berbuka puasa tiba, tidak semua orang, terutama mereka yang hidup di ibu kota dapat berbuka dengan tenang bersama keluarga di rumah. Sebagian besar terpaksa berbuka di pinggir jalan atau sambil berkendaraan karena tingkat kemacetan lalu lintas semakin parah dan sudah tidak manusiawi. Kebijakan pemerintah mengelola kemacetan tampaknya hanya bersifat tambal-sulam; tidak menyentuh akar masalah sama sekali. Pemerintah kota lumpuh menghadapi pertambahan jumlah kendaraan, terutama motor, sementara angkutan publik terabaikan.

Pada waktu malam, ketika kebanyakan warga perlu istirahat, malah terusik oleh suara loud speaker mesjid yang memekakkan telinga, padahal sudah ada aturan yang membatasi. Boleh saja aktivitas di mesjid berjalan 24 jam, tapi hindari menimbulkan suara gaduh, menggunakan loud speaker dengan volume sangat tinggi, terutama jika lokasi masjid terletak dekat rumah sakit atau gedung sekolah. Demikian pula, tradisi membangunkan warga di waktu sahur dengan membunyikan beduk, meneriaki warga melalui loud speaker, memukul tiang listrik atau cara lainnya sungguh tidak Islami.

Puasa Harus Membebaskan

Lalu, bagaimana menjadikan agama sebagai media transformasi dan pembebasan? Pertama, lakukan puasa dan juga ibadah lain dengan penuh keikhlasan semata-mata mengharapkan ridha Allah, mendisiplinkan diri dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Waktu sahur sebaiknya digunakan untuk salat tahajjud, berzikir, bertafakkur, dan makan sahur seadanya, tidak berlebihan seperti orang balas dendam. Hindari semua tontonan, seperti siaran TV yang sarat dengan acara yang lebih mirip fashion show dan dagelan tidak bermutu; atau tayangan tidak edukatif, beraroma horor, porno dan kekerasan.

Hindari perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai puasa, seperti mengambil hak orang lain, memaksa penutupan warung dan restoran, membuang sampah sembarangan, memanipulasi angka-angka proyek, menggunjing dan menzalimi sesama.

Kedua, sudah saatnya umat Islam menjadi cerdas dan berkualitas, perlu dakwah bermutu dan mampu mentransformasikan masyarakat menjadi lebih bermoral dan berspiritual. Dakwah agama (di mesjid, TV, sekolah dan berbagai pengajian) harus mampu merespon persoalan kontemporer yang riil dihadapi umat sehari-hari. Misalnya, bagaimana memenuhi kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sehingga tidak tampak lagi para pengemis di jalan-jalan; Bagaimana menyelesaikan persoalan sampah, kebutuhan air bersih, listrik, pemukiman dan transportasi. Bagaimana mengeliminasi kemiskinan, buta huruf, pengangguran, trafficking (perdagangan manusia), dan korupsi. Bagaimana mendapatkan layanan pendidikan dan kesehatan yang bermutu, tapi terjangkau. Bagaimana melepaskan umat dari belenggu radikalisme dan terorisme.

Ketiga, akhiri segala bentuk komersialisasi dan politisasi agama. Sudah waktunya umat Islam tidak menjadikan agama sekedar upacara ritual seremonial tanpa makna, tidak menjadikan agama sebagai komoditas politik dan alat mempersubur kapitalisme. Berhentilah memproduksi dan menggantung spanduk dengan ucapan Selamat Puasa; Selamat Idul Fitri, dan berbagai ucapan selamat atas nama agama dan atas nama Tuhan. Itu semua tidak Islami, mengganggu pemandangan, menambah produksi sampah, merusak lingkungan, perbuatan sia-sia, dan mubazir.

Keempat, sudah masanya mengubah orientasi pendidikan agama, jangan lagi berkutat pada aspek legal formal semata. Sejumlah penelitian mengungkapkan keprihatinan, bahwa pendidikan agama justru menumbuhkan sikap permusuhan dan kebencian pada orang berbeda. Pendidikan agama membuat orang bersikap prejudice, menjadi tidak toleran dan rela melakukan kekerasan terhadap orang lain yang dianggap tidak seiman. Pendidikan agama hendaknya lebih fokus pada penanaman nilai-nilai kemanusiaan universal yang justru merupakan esensi agama, seperti keadilan, kejujuran, kebersihan, keindahan, kesabaran, toleransi dan kedermawanan. Penghayatan terhadap nilai-nilai inilah yang akan menumbuhkan sikap dan perilaku santun, adil, jujur, amanah, rendah hati, welas asih, rela berkorban, empati, mencintai dan menghormati sesama manusia tanpa sekat apa pun, menyayangi makhluk lain serta mencintai kelestarian lingkungan.

Kelima, sudah sangat mendesak menyuarakan interpretasi agama yang kondusif terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan juga ramah terhadap perempuan dan kelompok minoritas. Interpretasi agama harus mampu memberi inspirasi kepada umat melahirkan karya-karya inovatif dan kreatif dalam berbagai bidang pembangunan sehingga agama sungguh-sungguh menjadi pendorong kemajuan peradaban manusia.

Dengan puasa Ramadan kali ini, kita berharap terjadi proses transformasi diri dan pada akhirnya terbebaskan dari semua musuh agama sehingga kita menjadi hamba yang bertakwa, berguna bagi sesama dan alam semesta. Wallahu a’lam bi as-shawab.

Leave a Comment