Share
Noda Hitam

Noda Hitam

Dalam Hadis riwayat Imam Abu ‘Isa al-Tirmidzi, Rasulullah Saw bersabda;

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذاَ أَذْنَبَ ذَنْباً كاَنَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تاَبَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ. فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِىْ ذَكَرَهُ الله فِى كِتاَبِهِ “كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ ماَ كاَنُوْا يَكْسِبُوْنَ”. (أخرجه الترمذى).

Artinya: “Sesungguhnya, ketika seorang mukmin melakukan sebuah dosa, maka ada noda hitam di hatinya. Jika ia bertau bat dan minta ampun, maka hatinya dibersihkan (dari noda hitam itu). Dan jika dosanya bertambah, maka bertambahlah noda hitamnya. Itulah ran yang disebutkan oleh Allah Swt dalam al-Qur’an al-Karim; Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu ran (menutup) hati mereka. (Qs. al-Muthaffifin ayat 14).” (HR al-Tirmidzi).

Dari sabda Rasulullah Saw di atas, kita dapat menangkap beberapa pelajaran penting. Pertama, seorang mukmin tetap berpotensi melakukan dosa. Ini merupakan sindiran dari Rasulullah Saw, bahwa kaum mukmin tidak seharusnya bersombong diri atau bertinggi hati dengan menganggap dirinya bersih dan senantiasa akan terhindar dari dosa lantaran kemukminannya. Karenanya, sabda Rasulullah Saw ini juga bisa dimaknai sebagai tanbih (peringatan) kepada kaum mukmin, supaya mereka menjaga diri dari perbuatan apapun yang dapat mendatangkan dosa.

Kedua, dosa itu laksana noda hitam. Sekali saja seorang mukmin berbuat dosa, maka noda hitam akan menempel di hatinya. Semakin banyak ia berbuat dosa, semakin banyak pula noda hitam di hatinya. Dan semakin banyak lagi ia berbuat dosa, maka hatinya akan tertimbun lumpur noda hitam. Jika hatinya sudah tertimbun lumpur noda hitam ini, maka cahaya Allah Swt tak akan bisa menembus masuk ke dalamnya. Lantas, matilah hatinya. Kematian hati inilah sesungguhnya ‘kiamat spiritual kubra’ yang harus dihindari seorang mukmin, jika ia ingin menggapai ridha Allah Swt, baik di dunia maupun di akhirat. Untuk itu, menghidupkan hati dengan menjauhi perbuatan dosa, harus terus-menerus diupayakannya, hingga cahaya Allah Swt benar-benar menjadi pelita hatinya.

Ketiga, pintu kesempatan bertaubat dan minta ampun terus terbuka. Inilah nikmat maha besar yang dianugerahkan Allah Swt kepada hamba-Nya yang pendosa. Kendati hamba-Nya telah banyak berbuat dosa, hingga hatinya tertimbun lumpur noda hitam, tetap saja Allah Swt memberi kesempatan baginya untuk membersihkan diri melalui jalan taubat dan minta ampun. Ibarat sepatu yang kotor dan bulukan, dengan taubat dan minta ampun, Allah Swt akan ‘menyemir’ hatinya hingga mengkilap kembali. Itulah rahmat Allah Swt, yang menjadi bukti betapa Allah Swt tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang pendosa. Itulah karakter Allah Swt sebagai al-Thawwab atau al-Ghaffar. Karenanya, manfaatkanlah kesempatan bertaubat dan minta ampun itu selagi nafas belum sampai tenggorokan.

Itulah pelajaran penting yang harus kita renungkan. Hindarilah perbuatan dosa, supaya cahaya Allah Swt bersinar di hati kita. Jika ‘terpaksa’ berbuat dosa, selekasnyalah kita bertaubat dan minta ampun, sehingga hati kita tidak mati tertimbun lumpur noda hitam. Sebaik umat Rasulullah Saw adalah yang paling cepat bertaubat dan minta ampun jika ia berdosa, bukan? Wa Allah a’lam.

artikel ini pernah dimuat di Republika, 27 Juni 2007

Leave a Comment