Share
Tangkal Ekstrimisme Di Dunia Digital, Direktur KBI Tawarkan Narasi Alternatif

Tangkal Ekstrimisme Di Dunia Digital, Direktur KBI Tawarkan Narasi Alternatif

Bandung – Direktur Komunitas Belajar Islam, Imam Malik, mengajak warganet untuk menggunakan narasi alternatif guna melawan bahaya ekstrimisme di dunia digital. Berbicara di hadapan 30 ustadz dan ustadzah dari 5 Provinsi di pulau Jawa, Malik menyebut terdapat setidaknya 3 alasan untuk memilih narasi alternatif; pertama, kondisi geo-politik saat ini yang menurutnya kontra produktif terhadap upaya membangun perdamaian.

“Perubahan iklim, pemanasan global, krisis ekonomi dunia, krisis energi dan persoalan imigrasi adalah beberapa persoalan yang seakan-akan tidak ada hubungan langsung dengan terorisme, tetapi faktor itu setidaknya membuat pekerjaan perdamaian semakin berat,” jelasnya saat berbicara di Workshop “Penguatan Peran Pesantren Dalam Promosi HAM Melalui Kontra Narasi Ekstremis” yang diadakan oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia di Bandung, Rabu (23/08/17).

Alasan kedua, terjadinya perang asimetris yang tidak jelas siapa lawan dan apa dampak perlawananya, serta ketiga, kondisi hidup saat ini yang disebutnya sudah tidak memiliki batas, utamanya dengan perkembangan teknologi komunikasi yang memungkinkan orang untuk menggali informasi secara leluasa dan bebas.

Tiga kondisi ini dipandangnya tidak kondusif untuk kontra narasi radikalisme. “Karena selain kontra radikalisme akan berpotensi menyerang dan menciptakan lawan baru atau narasi serangan kembali kepada kita, pesantren juga akan kehilangan fokus,” jelasnya.

Baginya, upaya kontra radikalisme juga berpotensi membuat kajian-kajian keislaman mengalami kemunduran. “kajian-kajian Islam akan mundur jika energi pesantren habis untuk urusan kontra narasi radikal,” lanjutnya.

“Yang harus kita lakukan saat ini adalah menarik perhatian warganet untuk kembali membaca wacana keislaman yang fokus pada upaya memperbaiki diri dan pengembangan keilmuan Islam, dan bukan pada politik Islam semata,” tutupnya.

Workshop ini sendiri adalah tindak lanjut program Pesantren for Peace (PFP) yang telah diselenggarakan selama 30 bulan terhitung sejak Januari 2015 hingga Juni 2017.

Leave a Comment