Share
Asyura Momentum Muhasabah Cinta

Asyura Momentum Muhasabah Cinta

Dalam bulan Muharram dikenal ada dua momentum besar yang sulit dilupakan dalam benak umat Islam, yaitu Tahun Baru Hijriyah yang jatuh pada tanggal satu Muharram dan Sepuluh Muharram atau yang lebih dikenal dengan sebutan Hari Asyura. Asyura berasal dari bahasa Arab yang artinya hari ke sepuluh di bulan Muharram. Imam Al-Qurthubi menyebutkan bahwa Asyura berasal dari kata Asyara atau Asyirah yang artinya bilangan ke sepuluh.

Dalam catatan Islam, hari ini memiliki keistimewaan luar biasa sehingga Nabi Muhammad SAW mengkhususkan untuk melakukan puasa dan memerintahkan umatnya untuk mengamalkannya. Banyak peristiwa sejarah terjadi yang membeberkan rekaman historis perjalanan para pejuang Agama Allah SWT di muka bumi ini.

Diantara riwayat menyebutkan pada hari ini Nabi Adam dan Hawa diampuni (QS Al Baqarah: 37), Nabi Idris diangkat ke surga (QS Maryam: 56-57), Nabi Ibrahim diselamatkan dari api Namrudz (QS Al Anbiya: 57-69), Nabi Yusuf dimerdekakan dari penjara karena fitnah Zulaikha (QS Yusuf: 56-57), dosa Nabi Yunus diampuni dan dikeluarkan dari perut ikan (QS Al Anbiya: 87-88), Musa menyeberangi Laut Merah sedangkan Firaun tenggelam di tempat tersebut (QS Taha: 78), dan Nabi Isa diangkat oleh Allah serta diselamatkan dari penganiayaan (QS Al Nisa: 157).

Memperhatikan keterangan tersebut, bagi umat Islam Asyura merupakan hari sejarah orang-orang besar yang mampu mengubah dunia dari kegelapan dan kedzaliman menuju cahaya hidayah, dari penindasan menuju pembebasan, dari kesesatan menuju jalan lurus, sebuah rangkaian sejarah yang merekam perjuangan para Nabi Alaihimussalam.

Thomas Carlyle memandang sejarah sebagai biografi dari manusia-manusia besar, bahkan ia berpandangan manusia besar laksana halilintar yang membelah langit, dan manusia lainnya hanya menunggu dia bak kayu bakar. Manusia besar laksana percikan api yang membakar kayu bakar kemudian meledak dan mengubah sejarah dalam waktu yang singkat.

Para pengubah sejarah peradaban dunia tersebut adalah para Nabi yang bekerja siang dan malam untuk kemaslahatan manusia di dunia. Mereka senantiasa mengajak manusia menggeser kecintaan dari kebendaan yang materialistis menuju kecintaan kepada Allah SWT., dan perjuangan yang mereka lakukanpun demi cintanya kepada Allah SWT. Tanpa kecintaan kepada-Nya sangat tidak mungkin perjuangan dakwah ditegakkan dengan tebusan harta, tenaga dan nyawa.

Manusia, selama hidup di dunia Allah karuniakan fitrah kecintaan kepada materi yang nampak lezat walaupun sesaat, sebagaimana dalam Q.S. Ali Imran [3] : 14:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Memang, kenikmatan di dunia merupakan hak semua orang yang hidup di muka bumi. Islam tidak melarang umatnya untuk mendapatkan kenikmatan hidup di dunia, bahkan Allah SWT memerintahkan supaya tidak melupakan kehidupan di dunia ini sebagaimana firman-Nya dalam  Q.S. Al-qashash [28] : 77.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Tapi ada satu batasan agar hal-hal duniawi tidak menggeser manusia ke arah jurang kesengsaraan. Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya Q.S. At-taubah [9] ; 24:

Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Cinta kepada Allah SWT adalah segalanya bagi kita. Tidak ada kenikmatan yang dirasakan oleh makhluk di dunia ini kecuali ketika kecintaan kepada Allah SWT sudah menyelimuti dirinya, mendarah daging, senafas dan sejantung dengan manusia.

Marilah momentum Asyura ini kita jadikan sebagai renungan historis mengenang para pendahulu kita yang merupakan pencinta Tuhan-Nya. Mereka bangkit untuk merubah manusia agar mencintai Tuhan dan Nabinya serta menebarkan cintanya kepada sesama makhluk Allah SWT, sehingga jagat ini penuh kedamaian.

Marilah kita cintai Allah SWT dengan mengikuti segala petunjuk Nabi Muhammad SAW. Inilah salah satu kiat supaya kita termasuk golongan Muhibbin (orang yang cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya). Firman Allah SWT dalam Q.S. Ali-Imran [3] : 31

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Wallahu a’lam bish-shawab.

1 Comment on this Post

  1. Apakah Asyura merupakan hari agung umat beragama ?

    Reply

Leave a Comment