Share
Tuhan

Tuhan

Tuhan, sebuah kata yang tidak asing bagi orang-orang yang beragama maupun tidak beragama. Bahkan sangat akrab dalam keseharian di telinga maupun lisan kita. Kata Tuhan digunakan untuk bercerita tentang sesembahan (yang disembah).

Dalam doa mereka, Umat Kristiani berkata, “Wahai Bapa di Surga.” Sedangkan Umat Budha memanggil, “Oh Mee To Fo yang aku muliakan,” Dan umat Hindu memohon, “Oh Hyang Widhi”. Kita umat Islam pasti sering menyebut: “Allahumma” sebagai panggilan paling sopan yang artinya “wahai Allah.” Demikianlah para pemeluk agama menyebut sesembahan (Tuhan) mereka.

Dalam Islam, konsep sesembahan (yang disembah) telah dirangkum oleh para Ulama dengan kalimat laa ma’buuda bihaqqin siwalloohu / tidak ada yang berhak (pantas) disembah kecuali Allah. Hal ini menjadi keyakinan dan hafalan seluruh pemeluk agama Islam tanpa terkecuali. Terlebih  karena merupakan makna dari separuh pertama kalimat syahadat “Laa ilaaha illAllah”.

Marilah kita garis bawahi kata “bihaqqin” di atas yang artinya berhak/pantas. Dari situlah timbulnya alasan para Ulama memilih kata Tuhan. Mereka datang ke Nusantara untuk menyebarkan agama Islam dan mendapati penduduknya telah menyembah berbagai macam sesembahan yang sebenarnya tidak patut disembah.

Kata “Tuhan” adalah isim mashdar dengan pola “fu’laan” dari kata kerja “taaha – yatuuhu/yatiihu” yang artinya tersesat di jalan. Berdasarkan itu, maka kata Tuhan berarti ketersesatan. Jadi awal mulanya, kata Tuhan digunakan untuk menyebut sesembahan penduduk asli Nusantara.

Pemilihan kata Tuhan oleh para Ulama tersebut sudah sangat tepat, yaitu agar senantiasa menjadi pembeda, antara yang benar untuk disembah dan yang tidak benar, dan antara konsep penyembahan yang haq dan yang bathil. Karena Ilmu Aqidah mengajarkan bahwa keyakinan itu wajib bersifat qot’i atau jazim, intinya harus merasa benar sendiri. Jadi meski kita mengakui adanya fenomena perbedaan agama, bersahabat sebaik-baiknya dengan pemeluk agama lain, namun di lubuk hati yang terdalam hanya Islam lah agama yang benar.

Ulama pendahulu memilih kata Tuhan agar generasi yang akan datang secara otomatis selalu ingat, bahwa baik itu benda-benda yang disembah maupun paradigma-paradigma ketuhanan di luar Islam adalah tidak benar sama sekali. Semua itu hanyalah Tuhan-Tuhan dan Konsep-Konsep Ketuhanan dalam ruang lingkup arti kata Tuhan yang asli, yaitu ketersesatan.

Barangkali anda berfikir saat ini untuk tidak lagi menyukai kata Tuhan dan mengganti kata “Tuhanku” menjadi “sesembahanku” atau “yang kusembah,” tapi itu sama sekali tidak perlu. Karena seiring dengan berjalannya waktu, kata Tuhan telah mengalami perkembangan makna. Sudah tidak lagi diingat bahwa kata Tuhan artinya ketersesatan dalam kehidupan beragama atau penyembahan selain Allah. Sekarang ini, kata Tuhan berarti sesembahan (yang disembah) secara umum, yaitu Dzat yang Maha Kuasa, dan dipakai dengan lazim oleh pemeluk agama apapun di Nusantara.

Kata “kawin” adalah contoh paling sederhana dalam hal perkembangan makna pada suatu kata. Semula hanya digunakan untuk hewan. Dan merupakan kata kerja yang berarti melakukan hubungan kelamin. Saat ini sudah sangat lazim kata tersebut digunakan bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari, dan disinonimkan dengan kata menikah. Bahkan resmi sebagai sebutan bagi status warga Negara Indonesia (WNI) dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Referensi :
1. Kamus : Mu’jam Al Lughah Al Arabiyyah Al Mu’ashiroh, Kata Nomer 1018
2. Kamus : Al Mu’jam Al Wasiith, Cetakan ke 4, Hal 91
3. Kamus : Al Qomus Al Muhith, Bab Ha’, Pasal Ta’
4. Kamus : Lisanul Arob, Harf Ha’, Pasal Ta

Leave a Comment