Share
LIMA WASIAT ALLAH

LIMA WASIAT ALLAH

Abu Dzar al-Ghiffari, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: “Kekasihku (Allah SWT) berwasiat kepadaku perihal lima hal. Pertama, aku (harus) mengasihi kaum papa (al-masakin) dan bergaul bersama mereka. Kedua, aku (harus) melihat orang yang statusnya di bawahku dan tidak melihat orang yang statusnya di atasku. Ketiga, aku (harus) menyambung tali silaturahim, kendati mereka berpaling dariku. Keempat, aku (harus) bertutur yang hak/benar, kendati pahit. Dan kelima, aku (harus) senantiasa berucap la haula wa la quwwata illa bi Allah,” (HR. Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad bin Hanbal).

Lima wasiat yang diterima Rasulullah SAW dari kekasih hatinya, Allah SWT, itu begitu indah dan menyentuh kalbu. Selanjutnya, oleh kita yang mengaku sebagai umat sejatinya, lima wasiat itu seharusnya kita posisikan sebagai rambu-rambu dalam menjalin hubungan baik dengan sesama. Sebab, secara umum, kelima wasiat itu terkait erat dengan persoalan sosial kemasyarakatan.

Wasiat pertama, perihal (keharusan) mengasihi kaum papa (al-masakin) dan bergaul bersama mereka, menyiratkan kepedulian sosial yang sangat penting. Siapapun kita, terutama yang memiliki kemampuan ekonomi, haruslah peduli terhadap keberadaan dan nasib mereka. Kepedulian sosial yang disebut altruism ini, bisa ditampakkan dengan cara membantu mereka secara ekonomi (bisa melalui zakat, shadaqah, pemberdayaan, dll), tidak mengerdilkan eksistensi mereka, bergaul dengan mereka secara wajar dan tanpa merendahkannya.

Nabi Muhammad SAW yang nota bene utusan teragung sepanjang zaman, sama sekali tidak alergi bergaul dengan mereka. Pun, beliau tak sedikitpun punya niat merendahkannya. Apalagi, dalam sejarahnya, mayoritas pengikut para nabi adalah kelompok masyarakat bawah. Di hadapan Allah SWT, semua manusia memang sama belaka derajatnya. Yang kaya, yang miskin, yang konglomerat, yang melarat, yang gedongan, yang gembel, laki-laki atau perempuan, semua setara di haribaan-Nya. Manusia menjadi tidak setara di hadapan Allah SWT, semata karena ketakwaannya. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ (الحجرات)

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian, berupa laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (Qs. al-Hujurat: 13).

Karenanya, perilaku membeda-bedakan manusia, misalnya karena latar belakang suku, ekonomi, kulit, dan sejenisnya, tidak mencerminkan ajaran dan akhlak islami yang adiluhung. Sebab, Rasulullah SAW sendiri berkali-kali mengatakan, tidak ada kelebihan orang kulit putih dibanding orang kulit hitam, tidak ada kemuliaan orang Arab atas orang ajam dan sebagainya. Ketakwaan sematalah yang membedakannya.

Wasiat kedua, tentang (keharusan) melihat orang yang statusnya lebih rendah dan tidak melihat orang yang statusnya lebih tinggi, merupakan sebentuk penjagaan (antisipasi) supaya kita tidak lamis atau tamak. Lumrahnya, kita bangga melihat saudara kita yang statusnya tinggi, hingga kebanggaan itu melenakan kita. Kita pun berkhayal ingin seperti dia.  Berbagai cara lantas ditempuh.

Kita berharap, pagi, siang, petang, malam, hingga pagi kembali, untuk menirunya. Padahal, harapan-harapan yang berlebihan, sebagaimana diucapkan Fredrich Nietzhe (filosof Jerman), bisa menjadi sumber petaka. Karena itu, seharusnya kita melihat ke bawah, sehingga kita kian bersyukur atas karunia-Nya SWT. Namun ingat! Melihat ke bawah, tidak berarti (dibenarkan) merendahkan mereka.

Wasiat ketiga, tentang (keharusan) menyambung tali silaturahim, kendati mereka (yang kita shilah-i) berpaling dari kita. Inilah cerminan akhlak mulia. Kendati mereka berpaling, atau bahkan memusuhi kita, tidak berarti kita dibenarkan memutuskan tali silaturahim. Silaturahim harus tetap dijaga, hatta pada situasi dan kondisi apapun jua. Malah, saking pentingnya nilai silaturahim ini, dengan orang tua yang nyata-nyata mengajak kemusyrikan sekalipun, tali silaturahim tetap harus disambung. Allah SWT berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (لقمان ).

Artinya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik; dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaku, kemudian hanya kepadaKu lah kembalimu. Maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs. Lukman: 15).

Ayat di atas menjelaskan, tidak ada alasan apapun yang bisa membenarkan pemutusan tali silaturahim, kendati alasan kemusyrikan. Secara sosial, hubungan baik harus tetap dijaga. Itu sebabnya, Rasulullah SAW mengancam tidak masuk surga orang yang memutus tali silaturahim. Dalam riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, beliau bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قاَطِعٌ (رواه البخارى ومسلم)

Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahim”. (HR Imam al-Bukhari dan Imam Muslim).

Sabda ini, tentu saja menjadi cerminan ancaman berat bagi pemutus tali silaturahim, karena tiada akan masuk surga alias masuk neraka. Selain itu, tradisi menjaga silaturahim juga memiliki efek psositif. Misalnya, Nabi Muhammad SAW menyatakan, silaturahim bisa menjadi wasilah keluasan rejeki dan panjang umur. (HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim).

Wasiat keempat, tentang (keharusan) bertutur yang hak (benar) kendati pahit, juga sangat penting ditekankan. Kita kerap mendengar pepatah “mulutmu adalah harimaumu”. Pepatah sederhana ini, menyiratkan makna yang dalam. Mulut, atau lebih luasnya tutur kata, laksana harimau yang bisa menerkam diri kita. Karenanya, harimau itu harus dijaga dan dirawat secara baik, supaya tidak menjadi beringas dan menerkam kita.

Pepatah lain mengatakan, “salamah al-insan fi hifdz al-lisan” (keselamatan manusia tergantung penjagaan atas lisannya). Malah, makna tersirat dari pepatah ini, keselamatan kita baik di dunia maupun di akhirat sangat tergantung perkataan kita. Ini, karena, dampak yang ditimbulkan oleh perkataan, akan sangat luar biasa. Perkataan baik berdampak kemaslahatan dan perkataan buruk berdampak kemafsadatan.

Cerita Nabi Muhammad SAW tentang wanita salihah, yang rajin menjalankan ritual keagamaan, namun di akhirat masuk neraka dan amal baiknya ludes, karena tidak kuasa menjaga lisannya kala di dunia, menjadi pelajaran terbaik dalam hal ini. Inilah orang, yang oleh beliau disebut sebagai al-muflis (orang yang bangkrut). Itu sebabnya, Rasulullah SAW acapkali berwanti-wanti;

مَنْ كاَنَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الأَخِرِ فاَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau lebih baik diam.” (HR Imam al-Bukhari).

Wasiat kelima, tentang (keharusan) senantiasa la haula wa la quwwata illa bi Allah, menjadi pondasi teologis, bagi keempat wasiat sebelumnya. Keempat wasiat itu haruslah dibangun dan ditegakkan di atas keyakinan bahwa segala daya kekuatan hanya milik Allah SWT. Kita, hamba-Nya yang lemah ini, tidak memiliki daya apapun di hadapan-Nya. Kita hanya mampu berupaya dan yang mewujudkan upaya kita hanyalah Allah SWT, Dzat Yang Maha Agung.

Karenanya, kalimat agung la haula wa la quwwata illa bi Allah, tidak seharusnya hanya kita jadikan penghias bibir sebagai zikir. Kalimat ini harus benar-benar menjadi pijakan darah teologis bagi kita, dalam mengarungi kehidupan dunia yang fana dan laksana permainan (lahw wa la’ib) ini. Sehingga, sikap sombong, congkak, dan pongah, akan pergi menjauh dari diri kita.

Itulah lima wasiat Allah SWT pada Nabi Muhammad SAW yang berarti juga kepada kita umatnya. Dan bila kita masih mengaku sebagai umatnya yang konsisten, tidak ada dalih apapun bagi kita, kecuali berupaya sebaik-baiknya melaksanakan lima wasiat itu, sehingga kita bisa menjadi kekasihnya. Wa Allah a’lam.[]

Leave a Comment