Share
Hikmah Ilmiah Waktu Shalat : Shalat Dzuhur

Hikmah Ilmiah Waktu Shalat : Shalat Dzuhur

Waktu shalat Dzuhur merupakan saat puncak dalam beraktivitas, sesudah bekerja atau beraktifitas selama beberapa jam. Tentunya pada waktu ini, otak butuh istirahat berfikir, tenaga pun demikian. Istirahat ini dibutuhkan untuk memulihkan tenaga sambil sedikit meluruskan kompas orientasi manusia yang cenderung kepada semangat duniawi untuk diseimbangkan dengan tujuan utamanya yaitu agar memperoleh kebahagiaan duniawi dan ukhrawi, karena sesunggunya kita hidup ini untuk kemaslahatan keduanya.

Dalam Ensiklopedi Kemukjizatan Ilmiah dalam Alquran dan Sunah, ditulis bahwa pada pagi hari, ozon dalam udara mencapai kadar yang paling tinggi. Ozon ini berpengaruh dalam memberikan semangat dan keaktifan pada urat-urat syaraf, otak, dan otot-otot. Maka ketika masuk waktu dluha, kadar ozon semakin menipis. Akibatnya hormon kortison yang dikeluarkan juga menurun hingga mencapai kadar yang paling rendah. Dalam kondisi seperti ini, seseorang akan merasakan kelelahan dan kepenatan yang luar biasa disertai perasaan tertekan dalam bekerja. Karena itu, ia membutuhkan istirahat. Kondisi ini kurang lebih tujuh jam sejak bangun pagi. Saat memasuki waktu shalat Dzuhur inilah, tubuh akan merasa kelelahan sehingga organ-organ tubuh berusaha mencari ketenangan dan kenyamanan hati.

Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma, mengungkapkan dalam bukunya Hikmah Shalat Untuk Pengobatan dan Kesehatan, bahwa pada waktu berdiri tegak, semua pikiran dilepaskan dari segala urusan yang membebani jiwa. Jika di hati masih tersisa atau memang masih tersimpan kedengkian dan iri hati, cepat atau lambat akan menimbulkan hilangnya keseimbangan hormon dan goncangnya keserasian kimiawi tubuh.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam ilmu tubuh manusia, semua gerak dan aktivitas manusia, baik yang dipengaruhi oleh kemauan seperti makan, minum, berdiri, berfikir dan lain sebagainya, maupun yang tidak dipengaruhi oleh kemauan seperti gerak jantung, proses pencernaann, pembuatan darah, dan lain sebagainya; semuanya itu tidak lebih dari serangkaian proses kimia yang terjadi di dalam tubuh. Organ-organ tubuh yang melakukan proses biokiamia ini bekerja di bawah control hormon.

Seandainya terjadi perubahan fisiologis tubuh (keseimbangan terganggu) seperti takut, marah, putus asa, stress, lemah dan sebagainya, keadaan ini dapat dinormalisir kembali dengan iman. Iman yang teguh, berarti pula konsekuen dengan shalat., dan dalam shalat yang sempurna akan ditemukan ketenangan batin.

Pantas saja Kemudian Rasulullah saw pernah bersabda kepada sahabat Bilal bin Rabah ketika memerintahkannya untuk adzan: “Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat.”  Hal ini sebagai sebuah pertanda, bahwa shalat bisa menjadi sebuah istirahat yang indah.

Dalam pelaksanaan shalat Dzuhur, Rasulullah SAW melakukannya dengan begitu mantap, tidak seperti saat ini yang banyak kita lihat di beberapa tempat, betapa shalat Dzuhur dilakukan dengan super express karena mengejar waktu makan siang dan sedikit rehat dengan obrolan ringan.

Sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Sa’id al Khudri RA menyatakan: Sesungguhnya Nabi SAW membaca seukuran tiga puluh ayat pada tiap-tiap rakaat pertama dan kedua dalam shalat Dzuhur. Dan seukuran lima belas ayat pada rakaat ketiga dan keempat. (Atau Abi sa’id mengatakan : setengahnya). Dan dalam shalat Ashar seukuran lima belas ayat pada rakaat pertama dan kedua dan pada rakaat ketiga dan keempat setengahnya

Betapa Rasulullah SAW menikmati setiap rakaat dari shalat Dzuhur dengan begitu enak dan nikmat. Memang pada dasarnya, ketika seseorang melakukan shalat dengan khusyu, tubuhnya akan diprogram untuk memperoduksi hormon ketenangan dan cinta yang disebarkan ke seluruh tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kondisi ini mengakibatkan munculnya efek peredaman pada aktivitas system limbic dan batang otak—dampak ikutannya adalah pengendalian diri seseorang menjadi lebih pakem.

Ia tidak lagi menggebu-gebu dan ngotot untuk mewujudkan pemenuhan kebutuhan batang otaknya. Ia akan jauh merasa lebih santai, tenang dan bahagia. Sel-sel tubuhnya akan berada dalam kondisi metabolism minimal. Saat itulah pikiran menjadi jernih dan bebas prasangka-prasangka karena ia terbebas pengaruh hormon-hormon agresif atau ketakutan. Intuisi dan ide-ide brilian akan muncul kepermukaan dan proses relaksasi yang optimal, baik fisik maupun psikologis, akan benar-benar terasa. Oleh karena itu, shalat yang bermutu dan berstandar tinggi menjadi sebentuk yang teramat eksklusif (asmarie.blogdetik.com).

Jadi, shalat Dzuhur merupakan titik terpenting dalam setiap istirahat yang kita lakukan. Andaikan saja para Pimpinan, Manager, Kepala Kantor dan Dinas mengerti pentingnya peningkatan produktifitas kerja para staf dan karyawannya, cukup dia memerintahkan kepada mereka untuk mengerjakan shalat Dzuhur secara berjamaah dengan baik, disiplin dan khusyu. Niscaya apa yang diharapkan dan ditargetkan dalam planning akan berhasil dan sukses karena SDM pelakunya telah siap secara mental dan spiritual.

Leave a Comment