Share
Tokoh Salafi-Wahabi Pelintir Perkataan Imam Syafi’i

Tokoh Salafi-Wahabi Pelintir Perkataan Imam Syafi’i

Terdapat beberapa kecenderungan saat ini untuk membenturkan pengikut madzhab Syafi’i (Syafi’iyah) dan Imam Syafi’i sendiri. Kecenderungan tersebut dapat dilihat dari beberapa hal, misalnya:

Pertama, pernyataan Salafi-Wahabi, “Orang yang mengaku bermadzhab Syafi’i itu hanya mempelajari fikih Syafi’i saja, tapi tidak mau mempelajari akidahnya.” Selanjutnya pembicaraan mereka mengarah pada bahwa akidah pengikut madzhab Syafi’i itu sudah menyimpang dari akidah Imam Syafi’i.

Kedua, tak jarang mereka mengutip perkataan Imam Syafi’i namun untuk membenarkan akidah atau ajaran yang mereka yakini. Lebih lanjut mereka sampaikan bahwa selama ini pengikut Syafi’i itu ternyata telah menyimpang dari penjelasan Imam Syafi’i sendiri. Salah satu contoh kasusnya adalah tentang bid’ah hasanah. Menurut Salafi-Wahabi, Imam Syafi’i tak mengakui bid’ah hasanah, sementara pengikutnya justru mengakui dan membela keberadaan bid’ah hasanah.

Apakah benar demikian? Tulisan Fikrah kali ini mencoba menjelaskan permasalahan, sekaligus “membongkar” salah satu contoh kecurangan kelompok Salafi-Wahabi yang memelintir penjelasan Imam Syafi’i. Suatu ketidakjujuran ilmiah yang tentu tak terpuji, apalagi bila tujuannya untuk “berbuat makar” terhadap seorang ulama besar.

Salafi-Wahabi Tak Akui Bid’ah Hasanah

Menurut kelompok Salafi-Wahabi, bid’ah hasanah itu tidak ada. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu al-Syaikh dalam risalahnya berjudul Hukm al-Ihtifal bi al-Maulid al-Nabawi wa al-Radd ‘ala Man Ajazahu (Hukum Peringatan Maulid Nabi dan Bantahan Terhadap Kelompok yang Memperbolehkan), hal 29-30 mengatakan:

الفصل الأول: البراهين على أن كل بدعة ضلالة وليس فيها شيء حسن. إن تقسيم البدع إلى حسنة وقبيحة، تقسيم لا مستند له في الشرع، وكيف يكون له أصل وهو ينافي صريح القرآن وصحيح الأحاديث؟ حكم الاحتفال بالمولد النبوي والرد على من أجازه” للشيخ محمد بن إبراهيم آل الشيخ رحمه الله (ص29-30)

“ Pasal pertama, tentang dalil-dalil bahwa semua bid’ah itu sesat, tak ada yang baik. Pembagian bid’ah menjadi baik dan jelek adalah pembagian yang tidak ada dasarnya dalam syariat. Bagaimana memiliki landasan syariat sedangkan pembagian itu bertentangan dengan ayat al-Qur’an dan hadits shahih.”

Salah satu dalil yang dikutip oleh Syaikh Muhammad Alu al-Syaikh adalah kasus teks salam seorang yang bersin di samping Ibnu Umar. Dijelaskan:

وهاك البيان على وجه التفصيل: أولاً: وروى الترمذي ( 2738)، والحاكم (4/265-266) وغيرهما بسند حسن عن نافع أن رجلا عطس إلى جنب ابن عمر رضي الله عنهما، فقال: الحمد لله، والسلام على رسوله! قال ابن عمر:”وأنا أقول: الحمد لله والسلام على رسول الله وليس هكذا علمنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – علمنا أن نقول: الحمد لله على كل حال” .

“Penjelasan secara rinci, pertama, hadits riwayat Tirmidzi (2738), al-Hakim (4/265-266), dan lainnya dengan sanad hasan dari Nafi’ bahwa seseorang bersin di samping Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, kemudia dia berkata, ‘Alhamdulillah was-Salamu ‘ala Rasulih.’ Mendengar itu, Ibnu Umar berkata, ‘Saya pun memuji Allah dan membaca salam untuk Rasulullah, namun tidak itu yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Beliau mengajarkan kita untuk mengatakan, “Alhamdulillah ‘ala kulli haalin.”

Riwayat ini, menurut penyusun kitab tersebut, menjadi dalil tidak boleh menganggap baik suatu perbuatan dengan mengandalkan akal sekaligus menjadi dalil tidak adanya istilah “bid’ah hasanah”.

Mengutip Pendapat Imam Syafi’i sebagai Bahan Pembenar

Akhirnya, sebagai pembenaran pendapatnya, ia mulai mengutip pendapat Imam Syafi’i. Pertama, Syaikh Muhammad Alu al-Syaikh mengutipnya dari dua kitab ulama pengikut madzhab Syafi’i, yaitu Imam Ghazali dan Syaikh al-Mahalli. Ia menjelaskan:

ولهذا قال الإمام الشافعي رحمه الله في كلمته المشهورة التي نقلها عنه أئمة مذهبه وعلماؤه كالغزالي في “المنخول” (ص374)، والمحلي في “جمع الجوامع-2/395 بحاشيته”: “من استحسن فقد شرع “)

“Oleh karena itu, Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan dalam kalimat beliau yang popular, yang dinukil oleh imam-imam dan ulama-ulama madzhabnya, seperti al-Ghazali dalam al-Mankhul (hal 374) dan al-Mahalli dalam Jam’u al-Jawami’ (2/395) dan Hasyiyahnya : Man istahsana faqad syarra’a (barangsiapa melakukan ‘istihsan/menilai baik sesuatu’ maka dia telah membuat-buat syariat.”

Lalu berikutnya, ia mengutipnya dari dua kitab induk Imam Syafi’i, yaitu al-Risalah dan al-Umm. Dengan melakukan hal ini, terlihat jelas tujuannya untuk membenturkan istilah bid’ah hasanah dengan pendapat Imam Syafi’i. Menurut tokoh Salafi-Wahabi ini, tidak mungkin Imam Syafi’i menyatakan adanya bid’ah hasanah, karena beliau menolak Istihsan.

Dia menjelaskan dalam kitab yang sama, jilid 8, halaman 45:

كيف يقول الشافعي رحمه الله بالبدعة الحسنة وهو القائل: “من استحسن فقد شرع”. والقائل في “الرسالة” ( ص507):”إنما الاستحسان تلذذ”. وعقد فصلاً في كتابه “الأم” (7/293- 304) بعنوان:”إبطال الاستحسان”.

“Bagaimana Syafi’i rahimahullah mengakui keberadaan bid’ah hasanah, sedang beliau mengatakan, ‘Barangsiapa melakukan istihsan maka dia telah membuat-buat syariat.’ Beliau juga mengatakan dalam al-Risalah (hal 507), ‘Istihsan adalah perbuatan untuk mencari kesenanangan diri.’ Imam Syafi’i juga membuat bab tersendiri dalam al-Umm (7/293-304) dengan judul ‘Pembatalan Istihsan’.”

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Alu al-Syaikh menganjurkan kita yang mengaku sebagai penganut madzhab Syafi’i agar menafsirkan kalam Imam Syafi’i dengan kaidah dan ushul ajaran madzhab Syafi’i. Dia menjelaskan:

لذلك؛ من أراد أن يفسر كلام الشافعي- رحمه الله – فليفعل ضمن قواعد وأصول الشافعي، وهذا يقتضي أن يفهم أصوله، وهذا الأمر مشهود في كل العلوم، فمن جهل اصطلاحات أربابها جهل معنى أقاويلهم.

“Oleh karena itu, siapapun yang akan menafsirkan kalam asy-Syafi’i rahimahullah maka hendaknya melakukannya sesuai dengan kaidah dan ushul al-Syafi’i. Hal ini merupakan keniscayaan untuk memahami ushul beliau. Sesuatu yang berlaku dalam setiap disiplin ilmu. Orang yang tak memahami istilah-istilah tuannya, tak bakal memahami makna ucapannya itu.”

Selanjutnya untuk menguatkan dalihnya, Syaikh Muhammad Alu al-Syaikh memberikan contohnya. Menurut tokoh Salafi-Wahabi ini, berdiri saat qiyam dalam peringatan maulid Nabi adalah salah satu contoh Istihsan yang sebenarnya ditolak oleh Imam Syafi’i. Dia mengatakan dalam pasal kelima kitabnya:

الفصل الخامس: القيام عند ذكر ولادته – صلى الله عليه وسلم – وزعمهم أنه يخروج إلى الدنيا أثناء قراءة قصص المولد (حثت القصص التي تقرأ بمناسبة الاحتفال بالمولد على القيام عند ذكر ولادة النبي – صلى الله عليه وسلم -وخروجه إلى الدنيا ومما جاء فيها من ذلك ما يلي: قال البرزنجي في “مولده” (ص77):(قد استحسن القيام عند ذكر مولده الشريف أئمة ذوو رِواية و روية فطوبى لمن كان تعظيمه – صلى الله عليه وسلم – غاية مرامه ومرماه). حكم الاحتفال بالمولد النبوي والرد على من أجازه” للشيخ محمد بن إبراهيم آل الشيخ رحمه الله (ص29-30)

“Pasal kelima tentang berdiri saat momen penyebutan kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan klaim mereka bahwa Nabi keluar ke dunia saat pembacaan kisah-kisah maulid. Kisah-kisah yang dibaca dalam acara peringatan maulid ini meniscayakan agar orang yang membacanya berdiri ketika penyebutan kisah kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan bahwa beliau keluar ke dunia. Di antara penjelasan mereka adalah sebagai berikut. Al-Barzanji mengatakan dalam kitab Maulid (hal 77), ‘Para ulama yang menguasai riwayat dan maknanya menganggap baik (istahsana, dari kata istihsan, penj) berdiri saat penyebutan kelahiran beliau yang mulia. Maka sungguh beruntung orang yang menjadikan pengangungan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai tujuan dan kecintaannya.” (Muhammad Alu al-Syaikh, Hukm al-Ihtifal bi al-Maulid al-Nabawi, hal 29-30).

Berdasarkan keterangan-keterangan yang dikutip dari kitab Hukm al-Ihtifal bi al-Maulid tersebut kita dapat mengambil beberapa kesimpulan. Pertama, menurut Salafi-Wahabi, Imam Syafi’i tidak mengakui bid’ah hasanah. Kedua, ketidaksetujuan Imam Syafi’i terhadap bid’ah hasanah itu dengan dasar karena beliau menolak istihsan.

Ketiga, Salafi-Wahabi telah mengartikan istihsan yang ditolak oleh Imam Syafi’i dengan makna yang bersifat harfiah-menyeluruh atau generalisasi, yaitu “menganggap baik sesuatu”, termasuk dalam hal ini sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallhu ‘alaihi Wa Sallam.

Sebuah Kefatalan Ilmiah

Nah, Imam Syafi’i dianggap menolak bid’ah hasanah dengan argumentasi bahwa beliau menolak istihsan adalah sebuah kefatalan ilmiah. Apa hubungan antara istihsan dengan bid’ah hasanah? Tidak ada hubungannya kecuali bila hanya secara paksa dihubung-hubungkan saja (jawa: otak-atik-matuk).

Penulis kitab tersebut mengajak orang lain untuk memahami kaidah dan prinsip Imam Syafi’i untuk menafsirkan kalam Imam Syafi’i. Namun justru dia membuat pemaknaan sendiri tentang istihsan yang ditolak oleh sang imam.

Pendapat semacam ini bila tidak didudukkan permasalahannya, akan membuat umat penganut madzhab Syafi’i akan dengan mudah memiliki kesimpulan:

“Kalau begitu, memang menurut madzhab Syafi’i, bid’ah hasanah itu tidak ada!”

“Menganggap baik suatu perilaku, padahal tidak ada dalilnya secara khusus, itu bertentangan dengan madzhab Syafi’i!”

“Merayakan maulid Nabi dan berdiri waktu qiyam itu adalah istihsan yang justru ditolak oleh Imam Syafi’i!”

Orang akan mudah memiliki kesimpulan demikian, terutama mereka yang berparadigma harfiah (literalis). Apalagi mereka yang cara beragamanya dengan semangat menyalahkan orang lain – na’udzu billah min dzalik.

Bantahan atas Makar Salafi-Wahabi terhadap Perkataan Imam Syafi’i

Betulkah Imam Syafi’i menolak bid’ah hasanah melalui konsep istihsan? Apakah betul kita sebagai penganut madzhab syafi’i yang menganggap baik maulid, berdiri dalam pembacaan shalawat, dan sebagainya telah bertentangan dengan pendapat Imam Syafi’i? Untuk menjawab beberapa pertanyan tersebut, mari kita ikuti beberapa penjelasan berikut ini.

Pertama, menurut Imam Syafi’i, istihsan yang tidak boleh itu adalah bila bertentangan dengan dalil al-Qur’an dan Sunnah. Dalam kitab ar-Risalah dijelaskan:

…. وهذا يبين أن حراما على أحد أن يقول بالاستحسان إذا خالف الاستحسان الخبر والخبر من الكتاب والسنة.

“Hal ini menjelaskan bahwa haram bagi seseorang berpendapat dengan istihsan jika istihsan tersebut bertentangan dengan khabar. Sementara khabar itu dari al-Qur’an dan as-Sunnah.” (al-Syafi’i, ar-Risalah, 503)

Kedua, istihsan yang dimaksud oleh Imam Syafi’i adalah istihsan sebagai lawan qiyas. Dalam ar-Risalah, hal 504 dijelaskan:

لِهَذَا تَدُلُّ على إبَاحَةِ الْقِيَاسِ وَحَظْرِ أَنْ يُعْمَلَ بِخِلَافِهِ من الِاسْتِحْسَانِ.

“Dengan ini menjadi dalil tentang kebolehan qiyas dan larangan untuk mengamalkan sebaliknya yaitu istihsan.”

Ketiga, baik ar-Risalah maupun al-Umm, adalah Kitab Ushul Fiqh. Apakah istihsan yang dimaksud dalam Ushul Fikih itu?

Para pakar Ushul Fikih memiliki beberapa pengertian tentang istihsan ini. Muhammad al-Amin al-Syinqithi dalam Mudzakkirah Ushul Fiqh ‘ala Raudhatun Nazhir merilis beberapa definisi tersebut.

Terdapat ulama Ushul yang memberikan pengertian istihsan dengan “Sesuatu yang dianggap baik oleh seorang mujtahid dengan akalnya (ma yastahsinuhul mujtahidu bi ‘aqlih).” Apakah yang dianggap baik tersebut? Ternyata obyeknya adalah dalil. Oleh karena itu, terdapat ulama Ushul yang memberikan pengertian istihsan dengan “Suatu dalil yang terbesit di benak mujtahid tanpa mampu untuk dia ungkapkan (dalilun yanqadihu fi nafsil mujtahidi la yaqdiru ‘alat ta’biiri ‘anhu).” (Lihat: Muhammad al-Amin al-Syinqithi, Mudzakkirah Ushul Fiqh ‘ala Raudhatun Nazhir, halaman 259)

Berdasarkan pengertian istihsan tersebut dapat disimpulkan bahwa obyek istihsan itu adalah dalil. Maksudnya, suatu pikiran dalam benak mujtahid untuk memilih suatu dalil dan meninggalkan yang lain, namun ia tak dapat mengungkapkan mengapa ia memilih dalil tersebut dan meninggalkan yang lain. Hal inilah yang ditolak oleh Imam Syafi’i, bukan istihsan yang diartikan “menganggap baik sesuatu” secara umum, atau “menilai sesuatu sebagai bid’ah hasanah”, sebagaimana dipahami oleh Salafi-Wahabi.

Keempat, ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah, ketika menganggap baik sesuatu, memang memakai kata istihsan, tapi yang dimaksud adalah istihsan dari segi bahasa, bukan dalam bidang Ushul Fiqh tersebut. Misalnya lanjutan kalam al-Barzanji tentang istihsan saat qiyam dalam pembacaan Maulid, sebagaimana dikutip Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam kitab al-Bayan wa al-Ta’rif fi Dzikra al-Mawlid al-Nabawi, hal 29-30).

Beliau menjelaskan:

ونعني بالاستحسان بالشيئ هنا كونه جائزا من حيث ذاته وأصله ومحمودا ومطلوبا من حيث بواعثه وعواقبه, لا بالمعنى المصطلح عليه في أصول الفقه.

“Yang kami maksud dengan istihsan atau menganggap baik sesuatu di sini adalah sesuatu yang dari asalnya suatu perbuatan itu boleh serta dari sisi tujuan dan dampaknya memang baik dan diharapkan. Bukan istihsan yang diistilahkan dalam ilmu Ushul al-Fiqh.”

Berdiri adalah sesuatu yang boleh. Bila tujuan dan dampaknya baik – sebagaimana dalam mahallul qiyam – maka itu baik. Itulah yang disebut istihsan di sini, bukan istihsan dalam Ushul Fiqh yang memang ditolak oleh Imam Syafi’i.

Kelima, anggapan bahwa Imam Syafi’i menolak bid’ah hasanah – apalagi dengan membawa-bawa konsep istihsan – adalah pemahaman yang salah dan kurang teliti. Pasalnya, al-Hafizh al-Baihaqi dalam Manaqib al-Imam al-Syafi’i menyitir pendapat Sang Imam bahwa bid’ah itu ada dua, yaitu sesat dan tidak sesat.

اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ: مَا أُحْدِثَ مما يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أثرا أوإِجْمَاعًا فَهذه بِدْعَةُ الضَّلالِ وَمَا أُحْدِثَ من الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهذه مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ. (الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، ١/٤٦٩).

“Sesuatu yang baru (muhdats) itu ada dua, sesuatu yang baru dikerjakan yang bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah, atsar, atau ijma’, maka ini adalah bid’ah yang sesat. Sementara sesuatu baru yang baik yang tidak bertentangan dengan sedikitpun dari hal itu maka ini adalah bid’ah yang tidak jelek.” (al-Hafizh al-Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafi’i, 1/469)

Ibnu Taimiyah mengomentari dalam al-’Aql wa al-Naql, bahwa periwayatan al-Baihaqi ini sanadnya shahih. Beliau menjelaskan:

قَالَ عَنْهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي العَقْلِ وَالنَّقْلِ 1/ 248 رَوَاهُ البَيْهَقِي بِإِسْنَادِهِ الصَّحِيْحِ فِي المدْخَلِ.

“Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam al-‘Aql wa al-Naql, 1/248, periwayatan ini (tentang Imam Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua) diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang sahih dalam al-Madkhal.”

Dengan membagi bid’ah menjadi dua, sesat dan tidak sesat, itu artinya justru Imam Syafi’i sendiri mengakui keberadaan bid’ah hasanah. Sama seperti pemahaman jumhur atau mayoritas ulama setelah beliau. Maka klaim Salafi-Wahabi bahwa Imam Syafi’i menolak bid’ah hasanah – apalagi dengan dalih beliau menolak istihsan – adalah kegagalan pemahaman dari kelompok yang gemar menyalahkan akidah dan amaliah mayoritas umat Islam ini.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Dimuat di Majalah Cahaya Nabawi, November 2017

Leave a Comment