Share
Hikmah Pagi: Kelembutan Rasulullah

Hikmah Pagi: Kelembutan Rasulullah

Diutusnya Rasulullah ke dunia merupakan anugerah yang tak tergantikan dengan apapun, maka Alquran mengatakan bahwa Allah mengutusnya sebagai “rahmat”; menebarkan kasih sayang antar sesama, bahkan untuk alam, jadi tak terbatas hanya kepada manusia. Dan tidak akan dijumpai sepanjang perjalanan hidup beliau mencela seseorang walau disakiti seperti apapun. Jangankan kepada manusia, kepada makanan saja beliau tidak mau mencela. Sebagaimana petuahnya,

ما عاب النبي -صلى الله عليه وسلم- طعاما قط، إن اشتهاه أَكَلَ وإِلَّا تَرَكَهُ

“Nabi tidak pernah mencela makanan, apabila suka beliau makan dan kalau tidak suka beliau meninggalkannya”. (H.R. Bukhari dalam shahihnya, Jilid: 5/2065).

Terhadap makanan, beliau begitu santun, tidak mau mencela, apalagi terhadap manusia. Maka yang sangat sedih dan miris, akhir-akhir ini marak kita lihat orang saling men-just mengikuti dakwah nabi, namun dakwahnya tak luput dari caci maki, dan mencari cela kekurangan saudaranya.

Namun bukan berarti beliau tidak pernah marah, beliau juga pernah marah apabila melihat kemungkaran dan dosa, namun kasih sayangnya melebihi kemarahannya. Karena ridlonya adalah ridho Allah dan marahnya adalah murka Allah, sebagaimana ‘Aisyah mengatakan,

كاَنَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ يَغْضَبُ لِغَضَبِهِ وَيَرْضَى لِرِضَاهُ

“Akhlaq beliau adalah Alquran, beliau marah karena kemarahannya dan beliau ridla karena ridla-Nya”. (H.R. Thabrany dalam Mu’jamul Ausath, Jilid: 7/91).

Maka mari kita senantiasa memperkaya kebaikan, bukan memperlihatkan kesombongan. Mencoba berusaha meneladani kehidupan sang potret kesempurnaan yaitu nabiyyuna Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mencari ridhonya supaya berkah dunia akhirat, semoga suatu saat ada satu titik untuk menyatukan semuanya dalam kedamaian dan kelembutan Aamien Allahumma Aamien.

Al-Faqir Ila Allah ZA

Leave a Comment