Share
Al Quran Bukan Kitab Sains

Al Quran Bukan Kitab Sains

Beberapa waktu lalu teman saya yang berbeda kampus bercerita bahwa setiap kali dosen memberikan materi perkuliahan sering kali disertai dalil Al Quran. Teman lain yang saya tanya juga sempat menyatakan hal yang sama bahwa saat menjelaskan teori sains dosen-dosennya terkadang menghubungkan teori tersebut dengan dalil yang terdapat dalam Al Quran.

Saya jadi bertanya-tanya, memangnya semua teori ilmiah harus ada dalilnya di Al Quran ya? Lebih jauh lagi, memangnya segala sesuatu yang kita lakukan mesti ada dalilnya dulu di Al Quran? Mulai dari cara makan, cara tidur, cara mandi, bahkan cara cebok.

Jika dipahami dengan nalar jernih, tidak mungkin Al Quran mencakup semua aspek kehidupan yang dijalani masyarakat muslim secara detail. Ditambah, problem yang bermunculan semakin bertambah sejak 14 abad yang lalu. Bayangkan, 14 abad! Kalau segala sesuatunya mesti ada di Al Quran, mau sebesar apa kitab itu? Dengan yang ada sekarang ini, sudah pasti masyarakat modern akan menganggapnya ketinggalan zaman, produk zaman old.

Bahasa Al Quran itu terbatas, itulah kenapa bapak ushul fikih, Imam Syafi’i merumuskan sumber hukum Islam menjadi empat tingkatan: Al Quran, Hadis, Ijma’, dan Qiyas. Jika suatu hukum tidak ditemukan nasnya di dalam Al Quran maka menggunakan Hadis, jika di Hadis tidak juga ditemukan maka menggunakan ijma’ ulama, begitu seterusnya. Jadi tidak semuanya mesti ada di dalam Al Quran. Yang ada di dalamnya hanyalah prinsip universal saja, sedangkan detailnya bisa terdapat dalam tafsir; baik itu melalui hadis, ijma’ maupun qiyas.

Terlepas dari benar tidaknya cerita teman saya tadi, realitanya memang ada, baik dari kalangan akademisi maupun penceramah yang menghubungkan nas Al Quran dengan teori sains. Sebut saja misalnya Zakir Naik. Berbeda dengan dosen kampus teman saya, Naik lebih sering mengutip teori sains untuk melakukan pembenaran atas Al Quran. Dalam sebuah ceramah yang diunggah LampuIslam channel, Naik menyakatan: “sebelumnya kita tidak tahu bagaimana bentuk bumi. Baru pada (tahun) 1557 M, ketika sir Francis Drake berkililing bumi, dia menemukan dan membuktikan bahwa bumi itu bulat.” Naik melanjutkan bahwa apa yang ditemukan baru-baru ini (yakni penemuan bumi bulat) sudah disebutkan Al Quran 1400 tahun yang lalu dalam surat al-Nazi’at: 30. Ayat tersebut berbunyi:

“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. (An-Nazi’at 79:30

Naik menerjemahkan “Dan bumi sesudah itu dibuat berbentuk seperti telur”. Menurutnya makna “dahaha” bisa dipahami sebagai “dihamparkan”, tetapi makna lainya berasal dari kata duya (?) yang berarti “telur”. Bukan telur biasa tetapi telur yang merujuk pada burung unta, berbentuk geo-spherical sebagaimana bumi.

Belakangan muncul teori yang membantah bentuk bumi bulat. Meskipun perdebatan soal bentuk bumi sudah berlangsung ratusan tahun lalu, dan menemui titik terangnya ketika NASA(National Aeronautics and Space Administrstion) dengan segala teori dan pembuktiannya melegitimasi bentuk bulat bumi, hingga saat ini masih ada mereka yang mempercayai bentuk bumi yang datar.

Gagasan tentang bumi datar ini diusung oleh Flat Earth Society; sekelompok masyarakat yang terdiri dari kalangan saintis dan awam yang meyakini bentuk bumi datar. Mereka menyajikan data-data sains untuk menunjukkan bahwa sebenarnya bentuk bumi adalah datar, bukan bulat. Selain itu mereka juga berargumen bahwa bentuk bumi bulat hanyalah propaganda NASA, sebagai kaki tangan Elit Global.

Terkait dengan penafsiran Naik di atas, kalangan Flat Eathers membantah penafsiran yang menyebut kata “dahaha” sebagai “dibuat berbentuk seperti telur”. Menurut mereka kata “daha” merupakan bentuk madhi (kata kerja lampau) yang bermakna “menghamparkan” “membentangakn” atau “meluaskan“ sebagaimana terjemahan Al Quran pada umumnya, dan bukan bermakna “membuat sesuatu berbentuk telur burung unta.” Selain itu, faktanya bentuk telur burung unta sama sekali tidak mirip dengan bentuk bumi yang bulat. Di samping argumen tersebut, mereka juga menyajikan ayat-ayat yang mendukung gagasan bumi datar, di antaranya al-Syam: 1-2, al-Hijr: 19 al-Ghasyiah: 20.

Dari pemaparan di atas diketahui bahwa tidak semua teori sains mesti memiliki relevansi dengan Al Quran. Sebab ia bukanlah kitab sains, tetapi merupakan kitab petunjuk bagi umat manusia, sebagaimana tujuan diturunkannya (Mustaqim: 2014). Apa yang dilakukan Zakir Naik –yang mengutip teori sains sebagai pembenaran atas Al Quran- rawan menjadikan para saintis dan juga masyarakat umum ragu akan kebenaran Al Quan. Sebab dengan runtuhnya teori sains, seakan-akan runtuh pula kebanaran Al Quran.

Mungkin seseorang bisa saja berpendapat bahwa yang salah bukan Qurannya, tetapi penafsirannya. Dan tidak disangsikan pula bahwa Al Quran merupakan sumber dari berbagai ilmu pengetahuan, termasuk sains. Tetapi, problemnya adalah; kebanyakan mereka yang menafsirkan Al Quran dengan pendekatan teori sains hanya mengadopsi teori yang telah ada dan bukan menggali secara mandiri ayat-ayat Al Quran, sebagaimana penafsiran pada umumnya (baca: corak tafsir). Sehingga yang terjadi hanya sekedar mencocokkan ayat dengan teori. Yang lebih parah lagi, jika tidak ditemukan kecocokan sebisa mungkin dibuat cocok, sebagaimana sering dilakukan Zakir Naik.

Kebenaran teori sains hanyalah nisbi. Ia senantiasa berubah seiring dengan perkembangan zaman. Bahkan teori tentang bumi bulat yang dianggap telah mapanpun dibantah dengan teori bumi datar yang digagas kalangan Flat Eathers.

Berbeda dengan teori sains, Al Quran adalah kitab suci yang bersifat ilahiyah, kebenarannya mutlak. Ia dianggap benar bukan karena relevansinya dengan teori ilmiah. Kebenaran Al Quran bukanlah diukur melalui rasionalisme semata. Sebagai kitab suci, di dalamnya terkandung dimensi-dimensi yang sulit dijangkau oleh rasionalitas dan panca indra biasa. Terdapat wilayah esoteris yang tidak dapat dipahami dengan pendekatan eksoteris semata, sebab esoterisme memiliki logikanya sendiri (Nasr: 2015).

Inilah letak ketinggian dan keagungan nilai Al Quran, yang membedakannya dengan kitab-kitab karangan manusia. Bahwa untuk memahaminya diperlukan penghayatan yang mendalam, bukan serampangan, apalagi sekedar pencocokkan.

Leave a Comment