Share
Negara Islam ala Indonesia: Catatan Pertemuan Dengan KH. Ma’ruf Amin

Negara Islam ala Indonesia: Catatan Pertemuan Dengan KH. Ma’ruf Amin

Kyai H. Ma’ruf adalah Rais Am PBNU periode 2015-2020 sekaligus Ketua Umum MUI periode 2015-2020. Dua posisi puncak yang dijabat secara sekaligus ini jarang dimiliki banyak orang. Ulama yang mendapatkan posisi yang sama sebelum Kiai Ma’ruf adalah KH MA Sahal Mahfudh, rahimahu Allah.

Sosoknya bersahaja, meski usianya sudah tidak muda, terlihat dari rambutnya yang sudah memutih semua, tapi semangatnya tidak kalah dengan yang masih muda. Saya jadi malu sendiri karena sebagai generasi muda, saya kalah semangat, bahkan kadang cenderung malas dan maunya serba instan.

Kyai Ma’ruf adalah salah seorang ulama yang menampik tekstualisme dan kejumudan dalam berpikir. Beliau berpendapat bahwa kalau teks-teks keagamaan dipahami secara tekstual, maka hal itu tidak memadai untuk menjawab persoalan-persoalan keumatan dan kebangsaan hari ini.

Bahkan sejak awal 90-an hingga sekarang, kyai Ma’ruf istiqomah berkampanye tentang pentingnya memahami teks kitab kuning lengkap dengan memahami konteks ketika teks itu disusun pengarangnya. Meminjam istilah pak Fuad Djabali, memahami sesuatu itu harus masuk dalam ruang dan waktu, supaya diperoleh pehamahan yang komprehensif. Sebagaimana Imam al Qarafi juga mengatakan “al-jumud ‘alal manqulat abadan dholulun fi al- din” (ketundukan tanpa batas terhadap produk hukum tertentu adalah kesesatan dalam beragama).

Kedatangan kami disambut dengan hangat karena kebetulan salah satu teman kami adalah sahabat salah satu putrinya ketika di pesantren dulu. Dalam pertemuan silaturrahmi yang berlangsung sekitar satu jam itu, beliau bercerita banyak hal; dari masalah kampus STIFnya yang punya kurikulum sendiri yang “unik”, masalah politik, ekonomi kerakyatan yang sedang dirintisnya, sampai dengan masalah-masalah kontemporer keagamaan.

Salah satu hal yang sangat menarik adalah uraiannya tentang “keindonesiaan”. Indonesia adalah negara majemuk yang terdiri dari berbagai macam agama, suku bangsa, budaya dan ras. Kenapa bisa bersatu? Menurutnya ada tiga hal yang membuat Indonesia rukun:

  1. Kemauan untuk mencari kesepakatan.
  2. Mempunyai kesepakatan
  3. Menjaga kesepakatan

Indonesia adalah negara yang dibangun berdasarkan kesepakatan. Indonesia bukan darul Islam juga bukan darul kufri ataupun darul harbi. Akan tetapi Indonesia adalah “darus-sulhi” atau “darul ‘ahdi”.

Darus-sulhi artinya negara kesepakatan. Negara yang dibangun berdasarkan kesepakatan bersama seluruh komponen bangsa. Kesepakatan itu harus dipatuhi oleh seluruh komponen bangsa apapun agama, suku dan golongannya. Dalam negara, kesepakatan setiap warga negara meski berbeda agama, wajib untuk saling melindungi dan hidup berdampingan secara damai.

menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Darul ahdi artinya negara tempat kita melakukan konsensus nasional. Negara kita berdiri karena seluruh kemajemukan bangsa, golongan, daerah, kekuatan politik, sepakat untuk mendirikan Indonesia. Jadi Indonesia merupakan kesepakatan seluruh elemen bangsa dari berbagai suku bangsa, bahasa dan bermacam-macam agama.

Kalau menelusuri sejarah ternyata Indonesia bukanlah negara pertama yang menggunakan konsep darus-sulhi tersebut. Menurut Kyai Ma’ruf, Rasulullah lebih dulu menggunakan kosep darus-sulhi ketika menetap di Madinah. Karena penduduk Madinah sangat majemuk, ada Islam, Yahudi, dan Nasrani. Ada Arab dan non-Arab dengan suku yang berbeda-beda. Setibanya di Madinah, Rasulullah membuat kesepakatan –kesepakatan dengan penduduk Madinah yang dikenal dengan Piagam Madinah. Piagam ini adalah kesepakatan hukum bersama yang harus ditaati oleh seluruh penduduk Madinah. Bahkan Nabi mengatakan “Siapa yang membunuh non-muslim yang ada perjanjian dengannya, tidak akan mencium bau surga “.

Kalau kita belajar sejarah ternyata ada proses yang panjang untuk sampai pada gerbang kemerdekaan. Ada sidang BPUPKI 1, BPUPKI 2, sidang PPKI dan seterusnya. Itu menunjukkan bahwa ada perjuangan, usaha serius, kegigihan, pengorbanan bahkan tetesan darah para pendahulu kita dalam membangun negara Indonesia. Semua anak bangsa berjuang mengorbankan jiwa, raga dan hartanya dari berbagai latar belakang agama, suku dan golongan untuk kemerdekaan Indonesia. Jadi, Indonesia dibangun berdasarkan kesepakatan-kesepakatan semua pihak  yang mewakili semua agama, suku dan golongan. Keputusan mereka final dan binding.

Jadi kalau sekarang ada sekelompok orang atau golongan menginginkan sistem khilafah ditegakkan di Indonesia, itu namanya mereka melanggar kesepakatan. Dan kalau kesepakatan itu dinodai maka bubar negara ini. Kewajiban seluruh komponen bangsa untuk menjaga dan merawat “kesepakatan” yang sudah dibangun oleh para founding fathers kita.

Salah satu bukti cinta tanah air adalah dengan merawat kesepakatan yang sudah dibangun dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif dan membangun. Cinta tanah air bukanlah ‘ashabiyah (fanatisme) sebagaimana dituduhkan oleh sebagian kalangan. Seolah-olah cinta tanah air berarti fanatik buta kepada negeri sendiri lalu mengabaikan atau bahkan merendahkan negeri lain. Cinta tanah air bukan soal egoisme kelompok. Cinta tanah air adalah tentang pentingnya manusia memiliki tempat tinggal yang memberinya kenyamanan dan perlindungan. Cinta tanah air juga tentang kemerdekaan dan kedaulatan. Sehingga siapa pun yang berusaha menjajah atau mengusir dari tanah tersebut, Islam mengajarkan untuk melakukan pembelaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah kelahiran beliau, Makkah. Hal ini bisa kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas radliyallahu ‘anh yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban, “‘Alangkah baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu”.

Cinta mengandung makna mengasihi, merawat, mengembangkan, juga melindungi. Ketika Rasulullah mencintai negeri Makkah, beliau menjadi orang yang sangat peduli terhadap penindasan dan bejatnya moral masyarakat musyrik kala itu. Saat beliau mencintai Madinah, beliau juga membangun masyarakat beradab dengan sistem hukum yang adil untuk masyarakat yang majemuk di Madinah.

Terjadinya perang saudara di beberapa negara timur tengah menunjukkan ternyata kesamaan dalam agama belum atau tak mampu menyatukan masyarakatnya. Somalia dan Afganistan, misalnya, 100 persen rakyatnya memeluk Islam. Namun perang saudara terus berlangsung, saling rebut kekuasaan dan penindasan terjadi dimana-mana..

Fanatisme kesukuan (‘ashobiyah) sudah menjangkiti suku-suku di Arab sejak jaman jahiliyah sampai sekarang. Padahal fanatisme yang berlebihan akan mengabaikan atau bahkan merendahkan kelompok yang lain.  Kalau mereka tidak merubah mindsetnya maka peperangan itu tidak akan berhenti sampai kapanpun dan pelan tapi pasti negara itu akan hancur. Perlu “kesepakatan” diantara mereka dengan menekan ego dan kepentingan golongan demi terbentuknya negara yang aman, damai dan makmur.

Menurut kyai Ma’ruf, beberapa ulama dari Timur Tengah akan bertemu dengan MUI untuk “belajar” Islam ala Indonesia dalam waktu dekat. Islam Indonesia yang memperlihatkan wajah yang arif dan damai. Islam yang “ramah” dengan kearifan-kearifan lokal yang sudah lama berserakan di bumi Nusantara. Artinya, “warisan nasional” yang ada di bumi Nusantara ini tidak perlu dihancurkan lantas diganti secara frontal dengan simbol-simbol keislaman yang literalis. Ini jelas jauh berbeda dengan apa yang dilakukan ISIS, Boko Haram, atau Al-Shabab saat menguasai suatu daerah. Mereka melakukan penghancuran terhadap warisan-warisan sejarah yang ada, bahkan kuburan pun jadi sasaran penghancuran.

Sebagai “darus-sulhi” atau “darul ‘ahdi”, maka umat Islam tidak boleh memaksakan kehendaknya untuk menegakkan syariah Islam di Indonesia. Toh walaupun  demikian tidak ada satupun sila dalam Pancasila yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, bahkan selaras dengan nilai-nilai Islam.

Jadi syariah Islam tidak harus dilegal-formalkan menjadi hukum negara, yang paling penting adalah hukum Allah itu hidup dalam jiwa setiap individu Muslim. Islam harus menjadi ruh bagi pemeluknya dalam menjalani kehidupan beragama dan berbangsa sehingga terwujud “keselarasan” antara hablum minallah dan hablum minannas.

Wallahu a’lam bis-showab  

 

Leave a Comment