Share
Hikmah Pagi: Penjelasan Imam Malik dan Imam Syafi’i Soal Rezeki

Hikmah Pagi: Penjelasan Imam Malik dan Imam Syafi’i Soal Rezeki

Tatkala Imam Syafi’i berkunjung ke kediaman gurunya Imam Malik, terjadi dialog yang cukup serius antar keduanya. Perbincangan mereka mengenai Rezeki. Sang Guru mengatakan bahwah rezeki itu datang karena benar-benar tawakkal kepada Allah, Imam Malik mengutip sebuah hadis:

لَوْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقّ تَوَكُّله لَرَزَقكم كَمَا يرزقُ الطَّيْر تغدو خماصا وتروح بطانا

Jikalau engkau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan memberikan kepadamu rezeki, sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung ketika ia pergi dari sangkarnya dalam kondisi lapar, kembali dalam kondisi kenyang. (HR. Imam al-Baihaq, Lihat: Syu’ubul Iman Imam al-Baihaqi, Jilid: 2/100, dalam riwayat yang lain dikatakan derajat hadis ini hasan shohih sebagaimana komentar Imam at-Tirmidzi).

Karena menghormati gurunya, Imam Syafi’i tidak berani langsung membantah tanpa argumentasi yang kuat, walaupun beliau tidak sependapat dengan gurunya. Imam Syafi’i berfikir bagaimana jika burung itu tidak terbang, niscaya tidak akan kenyang (tidak akan mendapatkan rezekinya)??

Sambil berjalan ia merenung dan berpikir, di tengah perjalanan, beliau berjumpa dengan kakek tua yang sedang mengangkat sekarung kurma sambil tertatih-tatih. Mendekatlah Imam Syafi’i untuk membantunya sampai di antar ke rumah kakek tua tadi, karena beliau sudah susah payah membantu, maka sang kakek memberinya sebagian dari kurmanya.

Imam Syafi’i akhirnya menemukan argumentasi yang kuat untuk menguatkan pendapatnya tentang hadis tersebut, dan mengatakan, “Iya kan, kita harus berusaha baru Allah akan memberikan rezeki kepada kita. Andai kata saya tidak membantu kakek tadi, mungkin saya tidak akan mendapatkan kurma ini.”

Kemudian beliau menghampiri gurunya, Imam Malik, dan menyampaikan peristiwa yang baru saja terjadi. Sambil Imam Syafi’i membawa kurmanya yang juga sebagian kurma diberikan Imam Malik. Imam Syafi’i mengatakan bahwa kita harus bersusah payah untuk mendapatkan rezeki.

Imam Malik hanya tersenyum dan mengatakan, “kamu yang susah payah mendapatkan kurma ini, dan saya tidak perlu susah payah hanya tinggal menikmatinya saja,” ucapnya sambil tersenyum lebar.

Kecerdasan para Imam sangat luar biasa, perbedaan dalam berbagi persoalan membuat mereka lebih akrab dan saling belajar, bukan saling bertengkar apalagi ribut.

Semoga kita bisa meneladani kisah-kisah dari para ulama yang sangat inspiratif, sehingga Allah memudahkan kita untuk senantiasa belajar dari setiap peristiwa yang terjadi. Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA

Leave a Comment